Cornelius WingCornelius Wing
SALJU CAIR
SALJU ABADI MULAI CAIR, BUMI TERANCAM

'Di wilayah Kutub Utara akan terjadi peningkatan suhu dua kali lebih tinggi dari standar dunia. Hal tersebut akan memiliki pengaruh serius pada bumi'. Kesimpulan ini dibuat Arctic Council setelah meneliti delapan negara (termasuk Amerika Serikat) dan teritori Kutub Utara oleh tim internasional beranggotakan 300 peneliti.

Penelitian selama empat tahun tersebut lebih jauh menjelaskan, peningkatan suhu akan berpengaruh pada kenaikan air laut dan akan semakin intensifnya pemanasan global. PAI Prestrud, wakil ketua streering-committee untuk laporan Penilaian Pengaruh Iklim Kutub Utara (Arctic Climate Impact Assessment-ACIA) mengatakan, "Proyeksi untuk masa depan menunjukkan tingkat pemanasan yang dua sampai tiga kali lebih tinggi dibanding belahan dunia lain. Ini akan berpengaruh pada sestem ekologi". Pendapat tersebut diperkuat oleh Direktur Perubahan Iklim World Wide Fund (WWF), Nennifer Morgan. Menurutnya, "Pencairan besar-besaran sudah dimulai".

Sesungguhnya berita soal menipisnya lapisan es juga sudah didengungkan sejak lama, bahkan berita tentang orang-orang Inuit di Baffin Island, Kanada, dekat Greenland, mulai merasakan lapisan es yang semakin menipis di sekitar tempat tinggal mereka.

Bahkan dipastikan 562 penduduk kota Shishmarefm di sebuah pulau kecil di barat laut pantai Alaska, akan menjadi 'pengungsi pertama di dunia akibat pemanasan global'. Sebabnya, tempat tinggal yang mereka bangun di atas lapisan es abadi (permafrost) terancam hanyut karena mencair. Selain itu, es-es yang asalnya terapung di laut dan menghambat ombak mencapai bibir pantai kini sudah tidak ada.

Gunter Weller, seorang klimatologis dari Universitas Alaska Fairbanks sudah menerbitkan laporan tentang lautan es yang akan menghilang dari Kutub Utara dalam 40-60 tahun ke depan. Profesor ini juga menambahkan bahwa perubahan yang sedang terjadi adalah perubahan geologis, tetapi terjadinya tidak dalam kurun waktu geologis, melainkan dalam kurun waktu manusia.

Laporan dari hasil penelitian diatas sebenarnya hanya penguat dari fakta yang sudah terjadi yaitu mencairnya lapisan es abadi di pegunungan Alpen di Swiss, Austria, Prancis, Jerman, dan Italia. Dan suatu saat akan menimbun para warga yang tinggal di daerah perbukitan.

Adalah pemanasan global sebagai penyebabnya. Kenaikan suhu – walaupun bagi kita mungkin tidak terasa – akan sangat berpengaruh pada permafrost karena kombinasi dari suhu yang hanya sedikit dibawah nol, volume es yang tinggi, dan curamnya lembah. Sementara itu, European Environment Agency (EEA) pada Agustus 2004 meluncurkan laporan yang isinya mengatakan bahwa pada 2080, musim dingin di Eropa akan hilang dan cuaca ekstrem akan semakin sering terjadi, kecuali pemanasan global di benua tersebut diperlambat.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa Eropa akan memanas lebih cepat dibandingkan belahan dunia lainnya dan dengan konsekuensi yang semakin berat, termasuk gelombang panas yang semakin sering, banjir, meningginya air laut dan mencairnya glasier.

Akibat dari semua itu, rata-rata suhu di Eropa diperkirakan akan mengalami peningkatan antara 2 sampai 6,3 derajat di abad ini karena efek rumah kaca.

Sebelum akhir abad ini, salju-salju di daerah-daerah Eropa diramalkan hanya akan menjadi bagian sejarah.

Bahkan air laut di abad ini diperkirakan akan meninggi empat kali lebih cepat dibanding abad sebelumnya. Lalu bagaimana dengan salju abadi di Gunung Jayawijaya di bumi Papua, apakah masih abadi?



...akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru ... dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya ... Matius 24:8, 14
 

Pictures

aussie02.jpg