PEREDARAN OBAT PALSU DI INDONESIA CAPAI 50%
Peredaran obat palsu di negara-negara berkembang termasuk Indonesia mencapai 25%-50%. Ini berdampak pada menurunnya kepercayaan konsumen terhadap sistem kesehatan di Indonesia.
Menurut data IPMG (International Pharmaceutical Manufacturers Group), masyarakat Indonesia akhirnya beralih untuk berobat ke luar negeri. Salah satu alasannya takut mendapatkan obat palsu. Akibatnya, sekitar US$ 3 juta hilang dari Indonesia.
IPMG juga menyebutkan bisnis obat palsu di Indonesia yang paling mendapatkan keuntungan tinggi secara global adalah viagra. Obat untuk gangguan disfungsi ereksi yang dikenal dengan pil biru, banyak dipalsukan dan diperkirakan keuntungan dari bisnis illegal ini mencapai US$ 5 miliar per tahun.
Kios penjual pil biru bertebaran di mana-mana dan dengan terang-terangan menjual obat tersebut dengan harga terjangkau.
Meskipun demikian, masih menurut data IPMG, hukuman terhadap para pemalsu obat sangatlah ringan, mereka hanya dihukum kurang dari dua tahun, tidak sesuai dengan perbuatannya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Kusuma Buana dr Firman Lubis menjelaskan, dari hasil perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sekitar 25% obat-obatan yang dijual di negara-negara miskin merupakan obat palsu. Angka ini bisa mencapai 40% untuk obat- obatan tertentu di negara-negara seperti Argentina, Meksiko, dan Kolombia.
"Sedangkan data IPMG mengetengahkan angka 25%-50% dari peredaran obat di Indonesia adalah illegal yang juga mempunyai potensi pemalsuan. Aspek bisnisnya juga cukup mencengangkan karena menurut perhitungan global, perdagangan obat palsu, dan obat-obatan di bawah standar bisa mencapai lebih dari US$ 30 juta per tahun," kata Firman.
Firman Lubis memberikan beberapa definisi tentang obat palsu. Obat palsu bisa saja merupakan obat-obatan dengan kandungan zat aktif yang benar, namun komposisi atau dosisnya salah, obat kedaluwarsa atau produk kemas ulang yang beresiko alergi dan efek samping fatal, terutama bila tercampur dengan obat lain.
Obat palsu bisa pula merupakan tepung murni tanpa kandungan zat aktif, atau bahkan tepung dengan zat beracun yang mengakibatkan kematian.
Munculnya bisnis obat palsu ini, kata Firman, tidak terlepas dari persoalan kemiskinan. Masyarakat miskin lebih memilih mendapatkan obat murah tanpa mengetahui apakah asli atau palsu.
"Bisnis obat-obatan palsu merupakan bisnis yang menjanjikan keuntungan besar dengan modal kecil. Membuat obat palsu tidaklah memerlukan keahlian khusus dan tempat istimewa."
Harapan untuk kesembuhan terletak pada obat, tetapi jika obatnya saja palsu kemana lagi harapan diletakkan?
Gereja menjadi institusi paling berdampak yang diharapkan jadi obat bagi masyarakatnya yang sakit dan terluka. Namun jika gereja penuh kepalsuan dan tidak menjadi gereja berkuasa seperti yang Yesus maksudkan, kepada siapa masyarakat akan meletakkan harapan atau kesembuhan dan masa depannya?
Sesungguhnya tidak tersedia alternatif lain untuk menaruh asa, selain pada Yesus Kristus dan tubuh-Nya, gereja, bukan sekedar agama Kristen!
Matius 5:13