MAKSIMALISASI
Dibandingkan dengan apa yang seharusnya, kita hanya setengahnya saja, tulis seorang psikolog dan philsof William James lebih lima puluh tahun lalu.
Pada kenyataannya, kita hanya baru mempergunakan sebagian kecil saja dari kemampuan kita. Beberapa ahli yang mengukur kemampuan manusia mengatakan bahwa 90-95% kemampuan manusia tidak pernah dikembangkan.
Kebanyakan dari kita tidak mengetahui seberapa banyak talenta yang dimilikinya. Kita bayangkan saja bahwa kita memiliki kekayaan yang dapat dikembangkan dari kemampuan kita itu. Bisnis kita akan gagal, kalau kita bekerja hanya dengan efisiensi 5-10% saja. Mengapa kita cukup puas dengan apa yang kita kerjakan sehari-hari? Tetapi sebagian besar dari kita seperti itu. Mengapa? Mengapa tidak menjadi yang terbaik?
Pertama-tama, masalah dalam mengenali kemampuan kita sendiri. Tidaklah mengherankan, karena kebanyakan dari kita dibesarkan hanya untuk melihat kekurangan kita saja. Sewaktu masih kecil, sering dikatakan kepada kita, "Kamu tidak dapat melakukan itu!". Di tempat kerja kita hanya diperhatikan bila kita membuat kesalahan. Tidak mengherankan bila kita merasa bahwa kemampuan kita terbatas.
Kedua, kebalikan dari yang pertama, seringkali kita terlalu membesarkan kemampuan kita. Sehingga sasaran itu tidak pernah tercapai.
Ketiga, yang sangat penting, kita hanya memperhatikan sebagian kecil talenta saja. Kita hanya mengenali satu atau dua talenta saja dan tidak menggali lebih yang lainnya. Ada orang yang selama bertahun-tahun hanya mengembangkan satu talentanya saja, dan sesuatu terjadi. Orang-orang mulai digantikan dengan mesin-mesin otomatis. Sekretaris diminta untuk menggunakan komputer. Bisnis-bisnis banyak yang merosot. Karena tiba-tiba mereka tidak dapat mempergunakan lagi kemampuan mereka yang ada, apakah mereka harus merasa gagal atau sedih? Tidak selalu, bila mereka menyadari bahwa kesuksesan dan kebahagiaan tersedia juga di bidang lain dan mereka masih tetap berpotensi untuk mencapai sasaran baru itu.
Kita hidup dalam masyarakat dimana "rata-rata" sudah cukup. Pekerja masuk jam 8 pagi, dan mulai menghitung waktunya hingga jam 5 sore. Beberapa pekerja bahkan manajer menganggap pekerjaan itu sebagai pengisi waktu untuk akhir pekan berikutnya. "Jangan bekerja terlalu keras" itu slogan yang cukup popular.
Hukum di negara kita menuliskan "Semua manusia diciptakan sama," sehingga akhirnya diambil kesimpulan "Semua orang akan menghasilkan yang sama".
Beberapa orang berhasil, dan mendapat kedudukan yang baik. Dan apa yang kita lakukan? Kita mungkin akan berpikir "Dia memang berhasil. Dia sejak lahir selalu beruntung dan saya tidak!" Tentu saja, keberuntungan pengaruhnya kecil untuk mencapai kekayaan, kesuksesan, atau kebahagiaan. Tidak ada yang beruntung sejak lahir. Setiap orang yang berhasil dalam kehidupan ini bekerja keras dan bahkan memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkannya.
Kesuksesan bukan terletak di bintang. Ia memerlukan ketekunan, kerja keras, persiapan, disiplin diri, keberanian dan iman.
"Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka ... tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya ... karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.
Matius 25:14,18,29-30