TERLAHIR SEBAGAI BAJINGAN
Penemuan gen kriminal menjadi isu kontroversial di jagad hukum. Sebagian pakar "kebenaran" setuju bahwa hasil uji gen bisa digunakan sebagai bukti yang meringankan. Pasalnya, bisa saja seseorang memang terlahir sebagai manusia jahat tanpa kuasa menolaknya. Alhasil, perbuatan yang dilakukannya bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya. Namun, sebagian lainnya menentang keras. Menurut mereka, penelitian genetika belum terungkap sepenuhnya dan uji gen kriminal hanya akan mendobrak etika-etika hukum yang telah lama berlaku.
Stephen Mobley adalah seorang pembunuh dan perampok bersenjata. Banyak orang yakin bahwa ia memang jahat dan, karena itu, patut mendapat hukuman setimpal. Vonis mati barangkali merupakan pilihan terbaik untuk menebus dosa-dosa yang dibuatnya.
Namun, para pengacaranya berargumentasi, Stephen seharusnya bebas dari hukuman mati di kursi listrik. Menurut mereka, sekalipun terbukti bertindak keji, pria itu tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas kesalahan yang dibuatnya. Mengapa? "Karena ia memang terlahir sebagai bajingan, dan itu bukan keinginannya", ujar salah seorang diantara mereka.
Stephen, yang di kalangan dunia kriminalitas AS dikenal juga sebagai Tony, konon terlahir dari keluarga hancur-hancuran. Perilaku kakek dan neneknya tidak pantas ditiru, begitu juga ibunya. Banyak saudara sedarahnya -- seperti paman, tante, saudara sepupu, dan keponakannya -- memilki reputasi buruk. Mereka dikenal sebagai perampok, pembunuh, dan pemerkosa.
Jadi, menurut kesimpulan para pengacaranya, perilaku jahat Stephen memang telah terbentuk sejak ia masih berada dalam kandungan. Artinya, di tubuh pria yang kini berusia 28 tahun itu terdapat gen kriminal yang diturunkan dari moyangnya. Gen itu hadir tanpa pernah bisa ditolak.
Argumentasi para pengacara Stephen tentu saja mengguncang dunia hukum di "Negeri Akang Sam" itu. Sampai-sampai Pengadilan Tinggi Georgia saat ini tengah menimbang-nimbang ihwal pemberian izin buat Stephen menjalani uji gen dan mengajukan banding atas hukuman matinya.
Mereka betul-betul pusing. Seandainya argumentasi itu ditolak, berarti tak akan ada lagi kasus hukum dengan memperhitungkan bukti genetika. Seandainya diterima, berarti akan muncul insiden baru di mana seorang penjahat bisa bebas dari jerat hukum hanya karena sebuah bukti biologis yang belum sepenuhnya terbukti benar.
Argumentasi gen kriminal belakangan ini memang kian mendapat perhatian masyarakat hukum, khususnya di Eropa dan AS. Sebuah konferensi yang mengangkat masalah genetika kejahatan dan perilaku anti-sosial, di London, pertengahan Maret lalu, membicarakannya, meski banyak diwarnai pro dan kontra.
Konferensi yang diselenggarakan Yayasan Ciba tersebut bahkan sempat mencuatkan keputusan cukup monumental. Sebagian besar partisipan sepakat, penelitian menganai gen kriminal sebaiknya lebih giat dilakukan. Bahkan, untuk keperluan itu, mereka telah merancang programnya.
SANGAT KONTROVERSIAL
Masalah gen kriminal sebetulnya bukan isu baru. Di AS, pada tahun 1992, topik tersebut pernah akan dibicarakan di sebuah konferensi tetapi ditentang keras mesyarakat. Para oposan menyatakan bahwa pembicaraan mengenai gen akan membangkitkan isu rasial. Alasan tersebut bisa diterima. Pasalnya, masyarakat kulit hitam AS, karena kemiskinannya, erat dengan kehidupan yang mengumbar kekerasan fisik.
Dalam konferensi di London beberapa waktu lalu, persoalan seperti ini pun masih diributkan. Dr. Gregory Bock dari Yayasan Ciba, contohnya, mengatakan, "Penelitian mengenai gen kriminal mungkin akan membuktikan keberadaannya secara ilmiah. Namun, hasil-hasil itu pasti amat mengejutkan. Ini masalah yang sangat sensitif bagi etika dan isu-isu hukum."
Gregory mengungkapkan bahwa kengerian-kengerian akan muncul seiring dengan pelaksanaan penelitian itu. Kelak, mungkin, seorang anak yang secara genetika diketahui cenderung sangat agresif akan dikucilkan. Kelak, mungkin juga, akan semakin deras tekanan untuk melakukan aborsi dan sterilisasi, hanya karena pertimbangan bahwa anak yang dilahirkan memiliki kecenderungan menjadi 'penjahat'. Bahkan, bukan tidak mungkin, demi perbaikan kota, akan lahir satu aturan baru yang mengharuskan seseorang berdarah 'jahat' tidak bersosialisasi dengan lingkungannya.
Keberatan yang sama juga dilontarkan Sir Michael Rutter dari Lembaga Psikiatri, London. "Gen kriminal merupakan isu kontroversial," ungkapnya. Karena itu, menurut Rutter, fokus penelitian mengenai gen kriminal sebaiknya lebih ditekankan pada pertimbangan-pertimbangan keilmiahan dan bukan pertimbangan politik.
Namun, banyak partisipan lain tidak sependapat dengan mereka. Menurut sejumlah dokter yang mendukung penelitian gen kriminal, terungkapnya seluk beluk gen tersebut akan membuka peluang ditemukannya obat yang bisa mengontrol agresivitas yang berlebihan. "Jelas ini merupakan prospek baik bagi dunia kedokteran," ujar mereka.
Dr. David King, editor publikasi kedokteran GenEthics News, bahkan ikut bicara. "Kejahatan yang dipicu faktor-faktor genetis merupakan kenyataan yang tidak bisa dimungkiri. Karena itu, kami memerlukan ahli kriminal, bahkan ahli biologi, yang bisa memberikan penjelasan genetika atas sebuah kejahatan," ujarnya.
BUKAN PERSOALAN MAIN-MAIN
Penelitian tentang gen yang menakdirkan munculnya perilaku jahat sebetulnya tergolong masih baru. Adalah Dr. David Goldman, dari Laboratorium Genetika Saraf Lembaga Kesehatan Nasional AS di Rockville, Maryland, dan Dr. Matti Virkkunen dari Universitas Helsinki yang memulainya. Mereka menemukan, agresivitas ternyata berkait erat dengan variasi genetis, khususnya yang bertanggungjawab terhadap pembentukan hormon-hormon pengontrol otak.
Penjelasan sederhananya bisa disimak dari penelitian yang dilakukan Dr. Han Brunner dari Universitas Nijmegen, Belanda. Brunner melakukan studi terhadap silsilah sebuah keluarga besar Belanda yang memiliki prestasi kejahatan cukup mencengangkan. Ia menemukan beberapa anggota pria di keluarga besar tersebut memiliki gen yang sudah termutasi dan mampu memproduksi monoamin oxidase (MAO). Zat tersebut, menurut Brunner, bisa memicu orang untuk bertindak agresif seperti memperkosa atau membakar.
"Temuan kami ini tidak bisa dianggap main-main,' kata Goldman. Keluarga-keluarga yang memiliki sejarah agresivitas, katanya, akan sangat beralasan jika ditawarkan uji antenatal -- uji janin ketika masih dalam kandungan -- dan konseling. "Bila kemudian ditemukan bahwa janin membawa gen yang kelak membuatnya agresif dan berperilaku jahat, terserah kepada orangtuanya untuk mempertahankan atau menggugurkan kehamilan tersebut," ujarnya.
Kenyataan bahwa faktor genetis turut bertanggung jawab terhadap pembentukan perilaku jahat juga dibenarkan Dr. Gregory Carey dari Lembaga Genetika Perilaku, Universitas Colorado. Dari perbandingan tujuh studi terpisah atas kembar identik dan kembar sedarah, ia memperkirakan bahwa faktor genetis berperan antara 40% hingga 50% terhadap tindak kekerasan yang dilakukan seseorang.
GERAKAN EUGENIC
Keterlibatan badan-badan peradilan AS dalam masalah-masalah genetika berawal tahun 1992. Ketika itu, Carrie Buck, seorang gadis yang baru saja melahirkan, divonis Colony of Epileptics and the Feebleminded (CEF) -- semacam yayasan penampung orang-orang cacat mental -- untuk menjalani sterilisasi. Alasannya sederhana. Gadis itu cacat mental, begitu pula ibunya, sehingga anaknya diperkirakan bakal mengalami penderitaan yang sama.
Meski mengundang banyak protes, tindakan yayasan tersebut ternyata mendapat dukungan banyak pihak. Seorang ilmuwan di sebuah lembaga akademis menyatakan bahwa kelainan mental yang dimiliki Carrie bersifat menurun. Seorang petugas Palang Merah, dihadapkan pengadilan, melaporkan bahwa Vivian, nama bayi itu, memiliki penampilan fisik yang 'agak kurang normal'. Sebuah uji ilmiah menyimpilkan bahwa Vivian memiliki perkembangan mental di bawah normal. Pengadilan pun akhirnya mendukung sikap CEF.
Belakangan, Pengadilan Tertinggi (Supreme Court) AS memberi pijakan kukuh untuk kasus serupa. Dideklarasikan, sterilisasi atas pertimbangan genetis berada di bawah kekuasaan negara. Hakim Oliver Wendell Holmes -- sebagai juru bicara pemerintah -- mengatakan bahwa kesejahteraan menuntut pengorbanan warga negara terbaiknya. Artinya, mungkin, keputusan-keputusan menyakitkan yang didasarkan pada alasan-alasan genetika bisa diterima sepanjang menghindarkan negara dari banjir manusia-manusia tak berdaya.
Undang-undang wajib sterilisasi akhirnya pun dibuat dan dibukukan. Kabarnya, lebih dari 24 negara bagian menerapkannya. Akibatnya, lebih dari 30.000 orang disterilisasi meski bertentangan dengan keinginannya.
Gerakan yang dikenal sebagai eugenic ini tentu saja menimbulkan pertentangan keras antara kelompok pro dan kontra. Namun, pemerintah AS tampaknya tetap ngotot dengan keputusannya. Bahkan, sikap mereka kian tegas setelah ilmuwan Francis Galton -- sepupu Charles Darwin -- mengatakan, jika binatang bisa diperbaiki lewat pembiakan selektif, manusia juga pasti bisa.
Di Inggris, eugenic sempat juga hadir. Namun, gerakan itu kemudian padam setelah tokoh sosialis J.B.S. Haldane ngotot menentangnya. Ia menyatakan, masalah reproduksi tidak bisa dikaitkan dengan persoalan membesarkan anak. Gagasan yang dikenal dengan ectogenesis menyarankan, kasih sayang dan perhatian terhadap anak -- sekalipun cacat -- merupakan jalan terbaik menciptakan manusia-manusia unggul.
Jerman bisa disebut negara yang paling menggembar-gemborkan semangat eugenic. Bahkan gerakan itu mereka sebut sebagai pembersihan rasial. Pada tahun 1933, seseorang pejabat kesejahteraan negara itu mengatakan bahwa undang-undang sterilisasi itu tidak cukup kuat menghentikan arus kelahiran psikopat dan penderita cacat mental lainnya. Karena itu, tindakan-tindakan yang lebih keras perlu diambil.
Dewasa ini tak banyak orang yang mempersoalkan eugenic. Pemerintah AS tampaknya juga kian lunak dalam menerapkan keputusan yang kerap menyakitkan tersebut. Sebuah proposal yang diajukan ke Federal Violence Initiative, tentang desakan untuk meneliti perilaku jahat anak-anak, telah tiga tahun terbengkalai. Proposal itu mengungkapkan, sedikitnya ada 100.000 anak-anak di AS yang menderita kelainan genetis. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin mereka akan tumbuh menjadi berandal-berandal yang menggerogoti kehidupan masyarakat.
LINGKUNGAN MENYUMBANG PENGARUH
Lepas dari pertimbangan genetika, sejumlah ahli bersikeras bahwa lingkungan merupakan faktor utama yang membentuk kepribadian seseorang. Argumentasi mereka, salah satunya, mengacu pada fenomena yang terjadi di AS.
Diketahui, 45% kejahatan (pembunuhan, perkosaan, dan perampokan) di "Negeri Akang Sam" cenderung dilakukan oleh orang-orang berkulit hitam meskipun jumlahnya hanya 12% dari total populasi.
Data yang cukup mencengangkan ini tidak bisa begitu saja dikaitkan dengan masalah genetika. Bisa jadi, kata Peter Breggin, seorang psikiater yang juga aktivis antirasisme di AS, "Mereka melakukan hal itu karena mereka adalah kelompok yang secara sosial merasa terbuang. Jadi bukan karena mereka memang terlahir sebagai bajingan".
Lebih jauh ia menuding, penelitian mengenai gen kriminal merupakan alasan yang dicari-cari guna menutupi ketidakmampuan para politisi mengatasi masalah kejahatan. "Ini tidak masuk akal. Penelitian genetika yang berkaitan dengan perilaku kriminal cuma menghambur-hamburkan uang saja", kata Breggin memprotes.
Suara serupa juga meluncur dari mulut Dr. Patric Bateson dari King's College, Cambridge. "Ada banyak langkah bermanfaat yang bisa mengurangi angka kejahatan. Misalnya, tingkatkan perhatian terhadap anak. Ini sangat sederhana jika dibandingkan dengan biaya yang perlu dikeluarkan guna mengecek benar tidaknya seseorang memiliki kecenderungan berperilaku jahat. Penelitian seharusnya dilihat dalam perspektif. Percuma saja bila apa yang kita lakukan hanya akan memberikan kontribusi sangat kecil terhadap pemahaman kejahatan", tuturnya.
Bateson lebih setuju jika dana penelitian yang akan dikucurkan pemerintah AS untuk penelitian gen kriminal dialihkan pada proyek Head Start, sebuah kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan IQ anak-anak yang terlantar melalui perawatan dan pendidikan. "Tidak memakan waktu, tapi akan memberi banyak manfaat di kemudian hari", katanya menegaskan.
Semua itu tampak masuk akal. Lingkungan bisa jadi memang berperan penting. Simak saja perjalanan hidup Milton Wheeler, seorang pemerkosa dan pembunuh yang baru-baru ini dijatuhi hukuman penjara 12 tahun di Old Bailey. Kehidupan masa kecilnya nyaris tak mengenal pengetahuan, kasih sayang, dan norma-norma sosial. Wheeler kerap menjadi obyek hajaran dan pelecehan seksual ayahnya. Jika gen kriminal memang menyumbangkan pengaruh, kondisi lingkungan boleh jadi tak kalah kuat membentuk kepribadiannya.
Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku ...
Mazmur 51:7