HELICONIUS
Heliconius adalah jenis kupu-kupu yang mempertahankan hidupnya dengan mensintesa racun sianida, waktu dia masih berbentuk ulat. Heliconius memakan nectar dari bunga-bunga yang mengandung racun sianida. Tidak seperti makluk lainnya, termasuk juga manusia, bila memakan racun ini ia akan mati. Agen-agen rahasia sering menggunakan pil sianida ini untuk bunuh diri bila dia tertangkap.
Habitat heliconius menyebar di Amerika Selatan, Equador, Colombia dan Panama.
Perbedaan heliconius dari jenis kupu-kupu lainnya:
| HELICONIUS : | KUPU-KUPU LAINNYA : |
1. Makan nectar dan pollen. Lebah juga mengumpulkan pollen yang diberikan khusus kepada calon lebah ratu | 1. Hanya makan nectar |
| 2. Dewasanya dapat mencapai umur bulan. | 2. Sekitar 4 hari. |
| 3. Cara terbangnya perlahan dan membentuk garis lurus. | 3. Terbang zig-zag, menghindari musuh. |
| 4. Dapat bertelur sepanjang hidupnya melalui sekali perkawinan. | 4. Hanya sekali bertelur, lalu mati. |
Heliconius dewasa bertelur lebih kurang 30 butir, telur ini berwarna kuning, yang tidak lebih besar dari butir beras, dan diletakkan di bawah daun. Setelah tiga sampai lima hari, seekor ulat kupu-kupu berwarna cerah yang sangat rakus keluar dari telur. Santapan pertamanya adalah sisa kulit telurnya. Ulat ini begitu rakusnya. Dalam masa dua minggu hidupnya ini ia akan bertambah besar 2700 kali. Ini berakibat dia harus berganti kulit sampai empat kali. Ulat ini harus makan banyak untuk menyiapkan cadangan makanan sewaktu menjadi kupu-kupu.
Daunan yang dimakannya mengandung racun sianida yang mematikan, tetapi heliconius dapat menetralkan dan menyimpannya. Racun inilah yang akhirnya akan menjadi pelindung ampuh heliconius dari pemangsanya. Bahkan beberapa jenis kupu-kupu lainnya berusaha mengambil keuntungan ini, dengan membuat pola warna yang mirip dengannya. Pemangsa, terutama burung, belajar dengan cepat bahwa heliconius bukanlah santapan yang baik. Bahkan dapat mematikan buat mereka. Itu sebabnya, walaupun heliconius terbang dengan perlahan didekatnya, mereka tidak pernah mau memangsanya. Setiap kali melihat pola warna sayap heliconius, itu menjadi peringatan buat mereka, 'jangan disentuh'.
Sampai waktunya dimana ulat akan bergantung dan membungkus dirinya dalam chrysalis menjadi pupa. Setelah dua hari, seekor heliconius yang berwarna cerah, merah hitam kuning putih, akan keluar dengan anggunnya.
Tuhan mengajarkan kita dari alam, bahwa heliconius berhasil mengambil keuntungan dari mengubah racun menjadi senjata pelindung. Manusia pun bisa mengubah pembentukan yang dirasakan sebagai racun yang mematikan menjadi kekuatan yang sangat besar pada masa yang akan datang.
"Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaanNya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya." (I Petrus 5:10)
"...penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita."(Roma 8:18).... "...untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya.."(Roma 8:29)..yang "..adalah cahaya kemuliaan Allah...(Ibrani 1:3)