SEMUA ORANG ITU CERDAS
Orang sering mengaitkan kecerdasan dengan IQ. Hal ini nggak sepenuhnya salah, tapi juga nggak sepenuhnya benar. Bila kita berbicara tentang IQ, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, IQ merupakan skor yang diperoleh sebagai hasil tes intelegensi, suatu tes yang ditujukan untuk mengetahui potensi seseorang dalam menempuh studi di lembaga pendidikan formal. Hal ini menyebabkan soal-soal tes intelegensi lebih banyak mengukur kecerdasan verbal dan matematis-logis, dua hal yang sangat dibutuhkan oleh mereka yang menempuh pendidikan formal. Kedua, waktu pemberian tes intelegensi juga harus diperhitungkan, mengingat bahwa IQ seseorang cenderung berubah seiring usia (semakin meningkat sampai usia dewasa, setelah itu stabil dan mulai menurun di usia tua). Ketiga, karena hanya mengukur kemampuan verbal dan matematis-logis, maka IQ belum dapat dijadikan indikator kecerdasan seseorang. IQ hanya menunjukkan potensi seseorang dalam menempuh pendidikan formal. Hal ini ditunjukkan oleh masih adanya para siswa atau mahasiswa yang memiliki IQ dan prestasi studi tinggi, namun gagal dalam dunia pekerjaan. Tipe-tipe Kecerdasan Pada 1981 sebuah penelitian dilakukan oleh Sternberg dan rekan-rekannya. Penelitian ini ditentukan untuk mengetahui perilaku apa yang dianggap menurunkan kecerdasan oleh masyarakat awam. Penelitian ini menghasilkan tiga kategori kecerdasan, yakni kecerdaan verbal, praktis, dan sosial. Bila mengacu pada ketiga kategori tersebut maka kebanyakan tes intelegensi lebih mengukur kategori pertama, kecerdasan verbal. Sekalipun dipandang sebagai pengukur kemampuan mental secara umum, sebenarnya tes intelegensi lebih memfokuskan pada satu tipe kecerdasan yang spesifik, yaitu kecerdasan akademik atau verbal. Selain itu Robert J. Stemberg juga memiliki teori kecerdasan sendiri yang dikenal dengan nama The Triarchic Theory. Sternberg menyatakan bahwa kecerdasan dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: - Perilaku kecerdasan komponensial (Componential Intelligent Behavior).
Sub teori ini mengacu pada struktur dan mekanisme yang mendasari perilaku cerdas. Di dalamnya terdapat tiga komponen pemrosesan data, yaitu belajar melakukan sesuatu, merencanakan apa yang akan dilakukan, dan bagaimana melakukan hal tersebut. Orang yang tergolong dalam tipe ini umumnya akan meraih nilai yang tinggi dalam tes intelegensi, tapi cenderung kurang kreatif dan kurang dapat berpikir kritis. - Perilaku kecerdasan eksperiensial (Experiential Intelligent Behavior).
Sub teori ini menunjukkan bahwa perilaku yang cerdas nggak akan selalu sama, monoton seiring perkembangan waktu. Kemampuan ini sangat kentara ketika seseorang harus menghadapi suatu hal baru atau harus menghadapi sesuatu persoalan secara spontan. Mereka yang memiliki karakteristik seperti ini mungkin nggak bisa meraih nilai tinggi dalam tes intelegensi, namun sering merupakan orang yang kreatif dalam menghadapi hidup. - Perilaku kecerdasan kontekstual (Contextual Intelligent Behavior).
Kecerdasan ini meliputi adaptasi dengan lingkungan, pemilihan lingkungan yang lebih optimal daripada yang dimiliki sekarang, menata lingkungan yang ada agar sesuai dengan keterampilan, minat dan nilai yang dimiliki. Kemampuan ini memungkinkan seseorang untuk menyatu dengan lingkungan dengan mengubah orang, lingkungan, atau keduanya. Dengan kata lain kemampuan untuk selaras dengan dunia.
Howard Gardner mengemukakan teori multiple inteligence. Ia membagi kecerdasan manusia dalam delapan kategori. Semula Gardner menggolongkan kecerdasan menjadi tujuh jenis, yaitu: kecerdasan linguistik, matematis-logis, musikal, spatial (ruang), kinestetik, interpersonal, serta intrapersonal.. Sebagai tambahan, Gardner memasukkan istilah naturalist intelligence atau kecerdasan naturalis. Orang yang memiliki jenis kecerdasan kedelapan ini memiliki kemampuan untuk mengenali flora dan fauna, membuat pembedaan berdasarkan akibat yang ditimbulkan dalam dunia alami dan menggunakan kemampuan ini secara produktif. Kecerdasan naturalis ditunjukkan oleh kemampuan untuk mengenali dan menggolongkan pola-pola tanaman dan hewan. Contoh yang memiliki kecerdasan ini antara lain Charles Darwin. Positron Emission Tomography (PET) adalah sebuah alat yang bisa mengukur kandungan partikel radioaktif per menit dalam aliran darah. Dengan begitu dapat diketahui daerah otak mana yang membutuhkan energi atau nutrisi glukosa lebih banyak. Kecerdasan dan Neurologi Penelitian Richard Haier dan rekan-rekannya di Universitas California berhasil menemukan perbedaan kinerja otak antara ahli game komputer dengan pemula. Dari penelitian ini ditemukan bahwa pada otak para ahli ternyata menunjukkan tingkat metabolisme glukosa (Glucose Metabolic Rate/GMR) yang lebih rendah. Rendahnya GMR menunjukkan lebih sedikitnya energi yang dibutuhkan. Dapat disimpulkan bahwa mereka yang memiliki kemampuan otak atau kecerdasan yang lebih baik akan memiliki cara berpikir yang lebih efisien yang ditunjukkan dengan rendahnya energi yang diperlukan. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa GMR dapat dikurangi melalui proses belajar dan latihan. Hal ini dapat diterangkan melalui proses otomatisasi (kegiatan yang sudah biasa dikerjakan akan memerlukan perhatian dan energi yang lebih sedikit). Karena sudah menjadi suatu kebiasaan, maka orang tersebut hanya membutuhkan sedikit energi untuk beraktivitas.
Setiap orang memiliki talenta yang berbeda-beda. Tugas kita adalah menemukan talenta itu dan mengasahnya sehingga terlihat cemerlang. EFEK MOZART
Pernah ngerasa bosan atau jenuh berada di kelas? Waktu guru fisika menerangkan teori momentum, eh, kamu malah berkali-kali menguap? Bukan sepenuhnya nggak baik, sih. Tapi ada baiknya kalau dicari tahu dulu, apa faktor penyebabnya. Ada yang bilang kalau itu bukan cuma gara-gara materi yang terlalu padat, PR seabrek, atau juga gurunya yang nggak bisa humor. Jadi apa lagi, dong? Beberapa ahli pendidikan berpendapat ada piranti lain yang menyebabkan sekolah nggak bisa bikin siswa enjoy dalam belajar. Sejauh ini pendidikan yang diberikan di sekolah formal di Indonesia nggak memberikan pendidikan seimbang untuk otak kiri dan otak kanan. Proses belajar mengajar hanya untuk otak kiri, sementara otak kanan yang mengatur masalah kreativitas, emosi, pengenalan waktu, dan ruang biasanya kurang terlatih. Nah, musik klasik bisa membantu perkembangan otak menjadi optimal dan seimbang. "Musik klasik akan membawa otak pada gelombang alpha. Gelombang itu menstimulasi serabut-serabut neuron korteks hingga bekerja maksimal. Selain itu gelombang ini membuat suasana menjadi rileks, tapi bukan malas, sehingga orang lebih aware, sadar dalam menerima informasi. Nah, itulah yang disebut Efek Mozart," kata Pak Said, pakar pendidikan LBB Phi-Beta Group ketika memberikan pelatihan Quantum Teaching pada tentor LBB PBG. Musik, itu memang kuncinya. Tapi hati-hati dalam menerjemahkan teori tersebut. Lantaran dianggap bisa meningkatkan kecerdasan, eh, nggak tahunya banyak orang tua yang mencekoki anaknya dengan musik. Nggak ketinggalan beberapa lembaga pendidikan yang mulai memfasilitasi musik dalam kegiatan belajar. Sementara mereka mengabaikan jenis musiknya. Jangan salah, yang dianjurkan hanya musik klasik! Menurut Pak Said, musik klasik yang dimaksud adalah musik yang berada dalam kurun periode klasik, bukan klasik dalam arti umum. Jenis musik semacam ini -sudah diujicobakan- adalah musik barok. Komponis yang termasuk dalam periode klasik itu antara lain Mozart, Haydn, Beethoven, dan Bach. Musik dari komponis pada masa itu memiliki keunggulan, karena iramanya yang teratur dan teksturnya yang sederhana. Kesederhanaan dan keteraturan itu membuat jantung berdenyut dengan normal. Selain itu juga dapat membangkitkan perasaan dan ingatan. Para peneliti menemukan bahwa siswa yang mendengarkan musik Mozart tampak lebih mudah menyimpan informasi dan memperoleh nilai tes lebih tinggi. "Mendengarkan musik piano Mozart bisa merangsang jalur saraf yang penting untuk kognisi," demikian laporan peneliti dr Frances H. Rausher, dari Universitas California, di Irvine.
Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu; kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau ... Amsal 2:10-11
|