The Real Treasure

» Posted on 22 Jul 2009 in Sharing | Comments Off

T

“… dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya”. (Ibrani 10:34)

Pada dasarnya kekayaan duniawi seperti uang dan harta benda bukanlah kekayaan yang tahan lama dan itu merupakan kekayaan yang terlihat. Sedangkan harta yang lebih baik dan lebih menetap sifatnya merupakan harta yang tidak kelihatan. Kekayaan yang terlihat bukanlah kekayaan yang sejati, yang patut diperjuangkan dengan segenap hidup kita. Kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan darinya.

Ada dua hal dasar yang lebih baik dan lebih menetap sifatnya yang dapat kita bawa ke dalam kehidupan yang akan datang … kekekalan! Yaitu :

  1. Karakter kita (siapa diri kita yang sesungguhnya) : apa yang telah kita
    ijinkan untuk Allah masukkan ke dalam hidup kita.
  2. Pekerjaan-pekerjaan kita : hal-hal yang kudus yang kita masukkan ke
    dalam hidup orang lain sehingga mengubah hidup mereka.

 

Karena itu, kita harus melakukan investasi ke dalam manusia, bukan didalam benda- benda. Manusia itu kekal, sedangkan benda-benda tidaklah kekal.
Kekayaan yang harus kita cari pun seharusnya berupa :

  • Nama baik (Amsal 22:1) – suatu kekayaan yang dapat ditinggalkan di bumi maupun dibawa ke dalam kekekalan. Allah akan menghormati kita, yang pada gilirannya Ia juga membuat orang-orang pun menghormati kita (Lukas 2:52), jikalau kita hidup menurut ketetapan-Nya dan berpegang teguh pada perintah-Nya dan melakukannya (Imamat 26:9). Bila kita kehilangan respek Allah maka kita kehilangan respek manusia juga. Allah menghapus nama baik mereka yang telah mengubah standar-standar moral-Nya (Maleakhi 2:7-9).
    Kita mungkin mendengar tentang seorang tokoh rohani yang jatuh kepada hawa nafsu dan dosa amoral yang pada gilirannya menghancurkan nama baiknya dan keluarganya. Belum lagi kasus hutang, dosa seksual tersembunyi, dan permainan politik agama dalam upaya mencapai kedudukan dalam struktur gereja. Hal-hal tersebut sering pada akhirnya meluluhlantakkan nama baik anak-anak Tuhan. Padahal kenyataannya lebih susah memulihkan nama baik yang telah rusak daripada mendapatkannya.
  • Karakter ilahi (Wahyu 3:14-19)
    Karakter yang dihasilkan dalam tungku penderitaan (Yesaya 48:10, Maleakhi 3:2-3, Wahyu 2:9).
    Gereja Laodikia merasa kaya tapi justru penilaian pihak Tuhan adalah “miskin, buta dan telanjang”. “Belilah daripada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api agar engkau menjadi kaya” … Itu adalah karakter Kristus, hal yang paling penting dalam kehidupan (Roma 8:29) dan akan kita bawa masuk kepada kekekalan. Karakter dikembangkan dengan cara terus menerus memilih jalan yang benar, bukan yang populer. Karena itu karakter selalu berhubungan dengan kepedihan. Saat dihadapkan pada suatu keputusan yang sulit atau suatu pencobaan yang menyiksa, apakah kita akan memilih jalan yang mudah atau jalan Allah dengan kasih karunia- Nya? Berkata “Ya” pada perasaan kita atau “Ya” pada kehendak Allah? Karakter kita adalah keseluruhan dari pilihan dan keputusan kita.
  • Pekerjaan yang baik
    “Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka (Wahyu 14:13).
    Perbuatan-perbuatan kita akan mengikuti kita ke dalam kekekalan.
    “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya” (Wahyu 22:12).
    “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10).
    “Untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus” (Efesus 4:12).
    “Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Korintus 15:58).
    “Karena itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu (2 Tesalonika 1:11).
    “Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku” (Filipi 2:30).
  • Membuat orang lain kaya
    “Sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang” (2 Korintus 6:10).
    Rasul Paulus hanya memiliki sedikit kemewahan di dunia ini, namun ia bisa buat orang lain kaya (dalam roh) dengan kebenaran-kebenaran yang ia sampaikan ke dalam hidup mereka. Dia memberi jawaban atas konflik-konflik dalam pikiran dan hati mereka. Paulus menginginkan “pengetahuan yang terbaik tentang Kristus” (Filipi 3:8, Versi King James) karena pengetahuan yang unggul akan menghasilkan karakter yang unggul di dalam orang-orang Kristen. Pengajaran-pengajarannya menunjukkan tentang cara untuk menghadapi kehidupan. Paulus menghabiskan seluruh hidupnya dengan menanam benih Firman Tuhan yang terbaik di dalam hidup orang-orang lain. Orang-orang berubah luar biasa saat dia menginvestasikan waktu, tenaga, doa dan talentanya dalam hidup mereka. Orang-orang diperkaya juga oleh wahyu yang mengubah hidup Paulus. Kebenaran-kebenaran yang ia tanam dalam bejana tanah liat itu telah mengubah mereka jadi suatu kekayaan bagi Tuhan (2 Korintus 4:7).

Apa yang kita investasikan di dalam orang-orang akan dibawa ke dalam kekekalan. Dewasa ini banyak pengajar dan pengajaran yang tidak seimbang dalam penekanan konsep tentang harta. Hal tersebut mengakibatkan pengejaran, pergumulan dan tujuan kekristenan yang sejati jadi menyimpang. Kenyataannya, penekanan berlebihan dalam ketidakseimbangan soal pengajaran kemakmuran telah memberi kesan bahwa kekayaan yang dikejar adalah bersifat “kebendaan”. Mungkin impresi atau kesan yang diciptakan sang pengajar di kalangan jemaat telah menimbulkan intepretasi yang salah terhadap kemurnian firman Allah. Ada baiknya setiap kita mengingat kembali peringatan firman Tuhan: “Awasi dirimu dan awasi ajaranmu”.

Apakah impresi atau kesan yang tercipta di benak kita tatkala Paulus berkata “Asal ada makanan ada pakaian cukuplah”? Apa kira-kira perhatian dan perjuangan Paulus yang terutama manakala ia berkata “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup memberi keuntungan besar” dan “Mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan”? (1 Timotius 6:2b-10). Bukankah hasrat dan perjuangan utama Rasul Paulus bukan berkat materi dan harta duniawi?
Ini semua juga berkaitan dengan isu keseimbangan seperti yang Paulus katakan: “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan…” (Filipi 4:11-12a).
Saatnya gereja kembali kepada pengajaran dan “perkataan sehat Yesus Kristus” (1 Timotius 6:2b) serta melabuhkan pandangannya kepada kekekalan.

- CORNELIUS WING -