Saya percaya bahwa di hari-hari ke depan ini orientasi gereja Tuhan, terutama di Indonesia, akan segera mengalami perubahan fokus secara kuat dan mendasar. Yang saya maksudkan bukanlah perubahan kecil dan tambal sulam. Tapi perubahan fundamental dalam paradigma, struktur dan orientasi dalam bergereja. Perubahan orientasi yang saya maksudkan adalah dari “berkutat di dalam” menjadi “berkarya di luar”. Sekali lagi maksud saya adalah pergeseran yang besar, signifikan dan strategis.
Sewaktu seluruh energi dipakai habis-habisan HANYA untuk memelihara dan memperbaiki ritual mingguan yang meng-entertaint (“menghibur”) orang, dengan alasan “menumbuhkan” semua yang ada di dalam empat dinding gereja, dan terjebak di dalam pekerjaan penggembalaan internal melulu maka tidak ada lagi kekuatan yang tersisa untuk berpikir bagi kota apalagi bangsa. Tak ada lagi yang tersisa bagi dunia. Orientasi menjadi sangat ke dalam dan bersifat self center. Kalaupun ada pekerjaan misi “keluar” itu hanyalah salah satu program alternatif dan bukan detak jantung utamanya…dan itu tidak seberapa kekuatannya dibandingkan dengan tekanan kuat perintah Yesus :”Pergilah…”…atau “mengusahakan kesejahteraan kota”. Yang ada hanya sekedar bunga-bunga aktifitas sebagai sedikit obat rasa bersalah. Keadaan gereja yang demikian sudah barang tentu tidak mungkin dapat diajak oleh Tuhan untuk berpikir dan berjuang bagi beban yang lebih besar dari itu…apalagi upaya-upaya “ke dalam”itu sudah menjadi perjuangan tanpa akhir yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kapan kita semua keluar dari “lingkaran setan” dan sindrom “total pastoring church” dan kemudian mulai memenuhkan “destiny” kita menjadi “apostolic church” yang perjuangannya akan mengubah wajah dunia? Tentunya penggembalaan adalah tugas dan panggilan gereja juga namun menjadikannya seakan-akan sebagai “keseluruhan tugas” (umumnya terjadi namun tidak disadari) berarti kegagalan menangkap seluruh maksud Allah. Hati Allah adalah misi. Jika bukan itu muara dari keseluruhan pekerjaan kita maka jelaslah kita tidak sedang mengerjakan apa yang Bapa SEDANG kerjakan.
Gereja sebaiknya memiliki peran utamanya secara internal sebagai pusdiklat (pusat pendidikan dan latihan), juga sebagai mesin cetak manusia-manusia Kristus yang kemudian mengirimnya keluar ke marketplace untuk mengubah wajah dunianya… bukan sekedar memelihara orang-orang saleh yang tanpa karya dan makna bagi lingkungannya dengan “semangat hari minggu” nya saja. Jika peralihan dan perpindahan orientasi Tubuh Kristus dari “total shepherding” (penggembalaan saja) kepada orientasi apostolic (pengutusan) ini tidak tertransisi maka selamanya akan mengakibatkan gereja tidak sanggup menuntaskan mandat pemuridan bangsa-bangsa dan mandat budaya “memerintah” dunia.
Karena “waktunya sudah hampir habis” maka saya percaya gerakan Roh di hari-hari mendatang akan membalikkan orientasi ini secara radikal dan fundamental. Bukan perubahan kecil dan sebagian.Keletihan dan kebingungan yang hebat akan melanda gereja-gereja sebagai konsekuensi dari tidak berpindahnya orientasi ke dalam menjadi keluar. Saya percaya juga bahwa akan ada lebih banyak lagi kemunculan ungkapan-ungkapan kepenatan :”Kami bosan ..Apalagi setelah yang ini nanti?..Kami bingung dan kecapean..Kenapa semua menjadi kering? Dimanakah kebangunan rohani yang sejati dan langgeng?”.
Gerakan apostolik terbesar akan segera tiba yang akan mengkoreksi seluruh tatanan dan arah tubuh Kristus sehingga dunia menerima kembali pengharapannya. Seperti tertulis dalam Roma 8:19: “Sebab dengan sangat rindu seluruh makhkluk menantikan saat anak-anak Allah DINYATAKAN”












