YANG MANA GAYA KEPEMIMPINAN KITA ?
Thema: Gaya Kepemimpinan
Kepemimpinan dan manajemen gereja akan tiba pada titik jenuh, seperti yang dikatakan Kouzes dan Posner dalam bukunya The Leadership Challenge. Just about everything we have been taught about traditional management prevents us from being effective leaders. And just about every popular notion about leadership is a myth. (Hampir di dalam segala sesuatu kita telah menerima pengajaran bahwa manajemen tradisional menghalangi kita menjadi pemimpin-pemimpin yang efektif. Dan hampir setiap pemikiran popular tentang kepemimpinan merupakan sebuah mitos). Akibatnya, pemimpin-pemimpin gereja akan cenderung menjalankan kepemimpinan dan manajemen gereja berdasarkan selera pribadi. James Carter dalam tulisannya yang berjudul How Effective is Your Leadership Styles menyebutkan tentang enam macam styles kepemimpinan, dimana lima yang pertama tidak alkitabiah dan berdasarkan selera pribadi. Enam gaya atau model kepemimpinan itu adalah: - The Leader-centered approach. Si pemimpin adalah satu-satunya pembuat keputusan. Ia sendiri yang memilih wakil, anggota-anggota staf dan orang-orang yang akan menuruti segala keinginannya. Style kepemimpinan yang otokratif (Autocratic) dan diktator (Dictatorial) ini memang melayani "nafsu" pribadi si pemimpin yang kadang- kadang sampai tua pun masih ingin berkuasa.
- The Paternalistic approach. Kalau dalam "leader-centered approach" si pemimpin masih menyadari keterbatasannya sendiri, maka dalam paternalistic approach si pemimpin merasa dirinya yang paling tahu dan paling bisa. Ia tidak bisa mempercayakan pekerjaan tertentu pada orang-orang lain. Ia harus melakukannya sendiri. Ia bekerja mati-matian dan mengharapkan penghargaan dari orang-orang lain. Sebagai pemimpin, ia seringkali mengambil-alih tanggung jawab orang-orang yang dipimpinnya.
- The Laissez-Faire approach. Si pemimpin memberikan kebebasan sepenuh- penuhnya pada setiap orang yang dipimpinnya. Sebagai pemimpin ia tidak berani berinisiatif, memberi pengarahan, pendelegasian, dan menuntut apapun dari orang lain. Ia hanya menjawab pertanyaan kalau ditanya. Peranannya sebagai pemimpin hanyalah mengerjakan pekerjaan yang menjadi bagiannya sendiri. Ia memang berusaha mencari individu untuk mengisi kekosongan pada jabatan tertentu, tetapi setelah itu setiap individu dibiarkan secara bebas mengerjakan tugasnya masing-masing.
- The Group-centered approach. Disini pemimpin mengharapkan adanya suatu kerja sama yang baik dari setiap orang dalam kelompok yang dipimpinnya. Secara demokratis semua orang bersama-sama menggali sumber dan bahan-bahan yang tersedia. Mereka bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Fungsi dari pemimpin adalah mengorganisir kerja sama tersebut.
- The Individual-centered approach. Gaya pemimpin dalam pendekatan ini adalah "ikut berpartisipasi secara aktif" dalam tugas-tugas yang dikerjakan individu-individu yang dipimpinnya. Dengan cara itulah ia membina hubungan baik dan bisa menstimulir pengembangan bakat dan potensi setiap individu tersebut. Kualitas kerja juga menjadi perhatian utamanya.
- The Truth-centered approach. Kepemimpinan yang meneladani Tuhan Yesus Kristus ini memanfaatkan setiap style kepemimpinan secara fleksibel. Ia bisa memakai pola yang ditentukan berdasarkan kebenaran Firman Allah dan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang ada. Objektif yang terutama dari kepemimpinannya bukanlah goal dari organisasi tetapi "pertumbuhan" (growth) seutuhnya dari setiap pribadi (Yohanes 10: 10b, Roma 8:29).
Berdasarkan model atau gaya kepemimpinannya yang ke-enam inilah gereja-gereja di penghujung abad keduapuluh dapat memanfaatkan prinsip-prinsip utama kepemimpinan dan manajemen gereja yang alkitabiah. Tantangan gereja dalam kepemimpinan dan manajemen begitu serius.
Judul buku: Tantangan Gereja di Indonesia Pengarang: Bunga Rampai Penerbit: Pusat Literatur Euangelion dan Yayasan Penerbitan Kristen Injili Halaman: 40-42
|