Agama Yang Membunuh
Sejak awal sejarah manusia hingga era modern ini, agama tampaknya merupakan "mesin pembunuh" paling keji yang justru disakralkan. Pembunuhan pertama, Kain atas Habil, tak lain merupakan buah dari kegelisahan beragama.
Banyak agama yang bermunculan kemudian menampilkan sosok "Tuhan" sebagai penguasa bengis yang haus darah dan menuntut kurban manusia. Sampai kini, tidak sedikit orang yang tidak segan-segan membunuh sesamanya, konon demi merebut "tiket ke surga".
Di tengah agama semacam itu, harkat dan martabat manusia merosot begitu rendah …. Alih-alih menghidupkan, agama justru membunuh manusia.
Yesus sendiri menghadapi sistem keagamaan semacam itu. Ia membangkitkan kegeraman para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, golongan paling alim pada masa itu. Ia menjungkirbalikkan tradisi mereka yang canggih berbelit-belit dan lebih cenderung membelenggu daripada memerdekakan.
Ketika mengisahkan penyembuhan di kolam Betesda (Yohanes 5:9b). Diperlihatkan, orang-orang Yahudi dengan sengit lebih meributkan pelanggaran terhadap tradisi Sabat daripada turut bersukacita atas kesembuhan ajaib seseorang yang telah sakit selama 38 tahun.
Menghadapi kebebalan legalistik ini, di tempat lain Yesus menegaskan, "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat" (Markus 2:27). Pernyataan ini menelanjangi legalisme yang lebih menekankan aspek-aspek lahiriah keberagamaan, yang justru tidak menjawab hakikat persoalan umat manusia. Persoalan manusia bukanlah bersumber dari luar sana. Chaos tersebut ada didalam diri manusia itu sendiri …. Kita memerlukan anugerah yang sanggup mengubah kehidupan kita dari dalam …. Itulah yang ditawarkan Yesus. Kedatangan-Nya sendiri digambarkan sebagai penuh dengan anugerah dan kebenaran (Yohanes 1:14) …. Untuk misi-Nya tersebut, Yesus dicurigai, dibenci, dan akhirnya dibunuh di kayu salib. Namun, kayu salib tidaklah mengakhiri misi-Nya. Kayu salib justru menggenapinya …. Salib-kematian terhadap "penggalan hati" kita yang jahat – merupakan jalan untuk membebaskan diri dari agama yang saling membunuh.
Mujizat: Fenomena Supernatural yang (seharusnya) Natural.
Mujizat memainkan peranan yang ganjil dalam sejarah iman Kristen. Mujizat kadang-kadang membangkitkan iman yang kuat, namun tidak jarang justru sebaliknya, mencetuskan ketidakpercayaan ….
Alkitab sendiri secara lapang mencatat baik mujizat dari Tuhan maupun mujizat dari setan. Ketika Musa mengubah ular dari tongkat, penyihir Mesir juga memamerkan fenomena serupa. Dalam peringatan apokaliptik antara lain disebutkan bahwa mujizat adalah salah satu senjata antikristus untuk menyesatkan orang …. Mujizat juga bukan penunjuk kedewasaan rohani seseorang …. Oleh karena itu, mujizat tidak dapat dijadikan alat legitimasi kedudukan atau kepemimpinan rohani seseorang ….
Judul: GAGAL MENJADI GARAM
Pengarang: Arie Saptaji
Penerbit: Yayasan Andi
Halaman: 55-58, 93-100