Thema: Kepemimpinan
Pelayan yang Memimpin atau Pemimpin yang Melayani
Banyak orang menganggap dirinya sebagai seorang pemimpin Kristen, baik di kantor, organisasi, kampus, rumah, atau gereja, meskipun konsep dan aksi kepemimpinan mereka sangat berbeda dengan konsep dan aksi kepemimpinan yang pernah diajarkan dan didemonstrasikan oleh Yesus Kristus. Aneh memang, tapi nyata …. Kebesaran seorang pemimpin Kristen tidak terletak pada berapa orang yang menjadi pengikutnya, tetapi berapa banyak orang yang dilayaninya. Kebesaran seorang pemimpin Kristen terletak justru pada komitmennya kepada mereka yang tersisih, kecil, marjinal dan sering dilupakan.
Kita cenderung ingin jadi besar namun tidak mau menjadi pelayan bagi sesama. Kita memilih untuk menjadi yang terkemuka, namun tidak pernah rela menjadi hamba bagi orang lain …. Yesus tidak mengajarkan konsep pemimpin- pelayan. Terminologi tersebut tidak pernah muncul di Alkitab. Yang Ia ajarkan adalah konsep pelayan, dan setiap orang Kristen seharusnya menjadi pelayan.
Pemimpin-pelayan bukan pemimpin yang melayani, namun pelayan yang memimpin.
Memimpin Tanpa Mengontrol Orang Lain
Mungkinkah memimpin dengan efektif tanpa mengontrol orang lain? Ataukah memimpin selalu berarti memegang kontrol? To lead is to be in control. Or is it?
Keinginan untuk selalu mengontrol segala sesuatu yang ada di sekitar kita adalah suatu yang inheren dalam natur manusia. Kita ingin mengatur waktu kita, keuangan kita, dan rencana-rencana kita. Ini tentu sah-sah saja, bahkan penting dan bijaksana untuk dilakukan.
Masalahnya kita cenderung melampaui batas kewajaran …. Kita ingin menguasai segala sesuatu di sekitar kita agar merasa nyaman dan aman. Termasuk mengatur orang lain agar mereka berpikir dan bersikap sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tak heran kalau intimidasi dengan cara halus menjadi bagian dari standar operasi pemimpin. Secara gradual pemimpin tersebut akan menjelma menjadi seorang tiran.
Dalam bukunya dengan judul Provokatif Sacred Cows Make Gourmet Burgers, Bill Easum menulis bahwa hari ini di gereja terdapat sebuah lembu emas yang sakral yang sangat dipuja oleh pemimpin gereja, yaitu kontrol.
Kontrol dapat menjadi hal yang berbahaya karena menciptakan ilusi bahwa si pemimpin harus selalu dapat mengontrol segala sesuatu di luar dirinya. Lalu ia berupaya keras mengubah ilusi tersebut menjadi sebuah realita.
Yang menarik, justru pemimpin yang dicintai orang banyak cenderung memiliki ilusi kontrol dan kuasa. Semakin ia disanjung dan dipuja orang, semakin ia ingin mendominasi dan menguasai lebih banyak orang lagi. Tidak sedikit pemimpin yang awalnya rendah hati lalu berubah menjadi pemimpin yang haus kuasa karena digerogoti oleh ilusi kontrol.
Kunci permasalahannya disini adalah ilusi kontrol tersebut muncul karena pemimpin terobsesi dengan tuntutan agar segala sesuatu berjalan/terjadi sesuai dengan kehendaknya.
Padahal saat seorang pemimpin berpikir ia sedang mengontrol orang lain, sebenarnya ia sedang dikontrol oleh ambisinya. Ia sedang diperbudak oleh ego.
Banyak pemimpin yang tidak rela kehilangan kontrol karena khawatir segalanya akan berantakan. Bagi mereka, absennya kontrol dapat mengakibatkan tirani. Itu sebabnya mereka lalu memutuskan untuk menjadi tiran- tiran yang baik. Namun mungkinkah ada seorang tiran yang baik?
Judul: KEPEMIMPINAN KRISTEN: KONSEP, KARAKTER, KOMPETENSI
Pengarang: Sendjaya
Penerbit: Kairos
Halaman: 85-90, 132-137