Cornelius WingCornelius Wing
PERJUANGAN UNTUK SEBUAH GENERASI
(PARADIGMA PEMURIDAN)


Thema: Paradigma Pemuridan

DUA UNSUR PELAYANAN YANG MENGUBAH KEHIDUPAN

Saya percaya bahwa ada dua unsur yang diperlukan untuk sebuah pelayanan yang mengubah kehidupan selain menyampaikan informasi. Pada hakikatnya, kedua unsur ini menolong para remaja mengintegrasikan apa yang mereka percayai dengan perilaku mereka.


Sebuah Misi Pribadi

Tanpa misi pribadi, anak muda tidak akan memahami perlunya mengetahui apa yang tengah dibagikan oleh pemimpin mereka.

Setiap tahun di akhir bulan Agustus, tim football sekolah lanjutan atas di kota kami melakukan kegiatan di luar kelas. Tujuannya untuk berlatih, berkeringat dan meregangkan otot. Sampai tingkat ini, football bukan suatu kegiatan yang menyenangkan. Saya sudah menyaksikan dua anak lelaki saya menjalani latihan tersebut. Sepulangnya dari latihan pada hari pertama, gaya jalan mereka bak seorang Frankenstein. Ada luka-luka di anggota badan mereka yang tidak pernah mereka duga bahwa hal itu dapat terjadi. Komentar mereka, "Latihan tadi betul-betul keras." Mereka berlatih tiga sesi sekaligus dan berlari sampai denyut jantung meningkat pesat, dan kemudian sang pelatih menjelaskan makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh di makan dan pukul berapa mereka harus sudah berada di rumah. Seakan-akan ia akan menjadi pengawas kehidupan anak-anak selama tiga bulan berikutnya.

Bayangkan bagaimana kalau di akhir latihan pertama itu, setelah anak-anak itu berkeringat dan mengalami luka-luka di sana sini, pelatih itu berkata, "Anak-anak, aku ingin mengumumkan satu hal bahwa ada sedikit perubahan untuk musim ini. Kita tidak akan bertanding sepanjang tahun, tetapi aku berharap kalian berlatih tiap hari. Kita akan berlatih terus dan kuharap kalian tidak melanggar jam malam maupun diet." Berapa banyak anak yang akan berlatih esok harinya? Apakah ada anak yang muncul untuk berkeringat dan meregangkan otot jika tidak ada pertandingan?

Masalah yang timbul dengan kebanyakan anak muda Kristen ialah, mereka tidak mengikuti pertandingan. Kita senantiasa memberi mereka segala sesuatu yang mereka perlu lakukan sebagai orang Kristen – membaca Alktiab, bersaat teduh, belajar, berdoa, melakukan kehendak Tuhan, melakukan hal yang benar – namun mereka tidak memiliki alasan mengapa mereka harus melakukan itu semua. Tidak ada pertandingan untuk menggunakan semua itu. Mereka membutuhkan sebuah misi.

Memberi anak-anak sebuah misi akan dibahas lebih lanjut dalam buku ini, namun yang penting untuk saat ini adalah menyadari bahwa banyak kejenuhan dan sikap apatis menjadi gangguan dalam hal minat. Banyak anak muda yang percaya tidak memiliki minat karena mereka tidak berlatih. Jika seorang remaja merupakan anak yang malas dalam hal rohani, maka cukup sulit untuk mengembangkan minatnya. Dengan berkegiatan di luar rumah, menyibukkan diri dan bekerja, seseorang dapat membangkitkan minatnya dan berkata, "Dimana bisa mendapatkan makanan?"

Anak muda Kristen masa kini sudah terlalu banyak mengonsumsi makanan rohani yang bergizi rendah sehingga ketika kita menghidangkan makanan yang sehat – sebuah pelajaran harus dipetik, pemahaman Alkitab, atau kebaktian kaum muda—mereka menguap dan hanya makan sedikit-sedikit. Mereka tidak memiliki selera untuk makan dan tidak berminat untuk berlatih olah tubuh. Mereka mengganjal perut mereka dengan makanan bergizi rendah.


Iman yang Spesifik

Unsur kedua untuk membuat para remaja mengaitkan hakikat kepercayaan dengan perilaku mereka ialah iman yang spesifik. Salah satu kelemahan kita yang terbesar dalam menyajikan kehidupan kristiani kepada orang lain ialah, penyajian itu dilakukan dengan warna yang begitu umum. Disinilah para ahli retorika mendapatkan peluang. Misalnya, kita mengatakan, "Persembahkan tubuhmu." Kedengarannya bagus – tetapi sangat tidak tepat kalau diucapkan pada pertemuan hari Senin khusus remaja. Apa gerangan yang disebut "hidup" yang harus dipersembahkan dan, apa arti mempersembahkan? Bagaimana seorang remaja tahu apakah ia mempersembahkan atau tidak mempersembahkan hidupnya kepada Kristus?

Para remaja perlu memahami bahwa harus ada Tuhan yang spesifik dalam hidup manusia, bukan tuhan dalam artian yang umum; bahwa mereka harus mempersembahkan hidupnya secara spesifik, bukan secara umum; harus beribadah setiap hari, bukan setahun sekali di kamp, di konferensi, atau di konser. Itulah sebabnya tindakan mempersembahkan ulang begitu sering dilakukan. Ada anak-anak yang begitu sering mempersembahkan hidupnya kembali sehingga tindakan itu sudah dilakukan berulang-ulang sepanjang hidupnya. Tindakan mempersembahkan ulang telah menjadi semacam pembius ringan bagi remaja sehingga dalam setahun mereka dapat melakukannya sebanyak satu atau dua kali pada beberapa pertemuan rohani. Dan, ini membuat mereka merasa lebih nyaman apabila selama 6 bulan sebelumnya mereka tidak hidup sungguh-sungguh bagi Kristus. Biasanya, mereka akan kembali mempersembahkan hidup mereka 6 bulan kemudian.

Salah satu teman kuliah saya selalu memiliki semangat hidup yang menggebu- gebu menjelang setiap liburan, karena dia akan segera bertemu kekasihnya. Biasanya, ia berkata demikian, "Kami akan menikmati liburan. Aku tidak sabar menunggu." Dari hari ke hari, ia terlihat makin tidak sabar.

Sepulangnya dari liburan, kami menanyai dia, "Bagaimana liburanmu?"

Ia menjawab, "Oh, menyenangkan. Senang sekali bertemu dia."

Kami melanjutkan pertanyaan kami, "Apa maksudmu? Seharusnya kamu lebih sedikit antusias."

Ujarnya, "Kalian tidak tahu apa yang terjadi karena kami berjauhan, dibutuhkan satu minggu penuh untuk mulai dari titik dimana aku pertama kali meninggalkan dia. Dibutuhkan seluruh waktu liburan untuk kembali ke titik nol."

Itulah yang terjadi pada kondisi rohani remaja-remaja apabila mereka mengandalkan pertemuan-pertemuan maupun daya tarik rohani untuk menjaga kondisi rohani mereka. Mereka sudah menggantikan realitas rohani dengan daya tarik rohani. Konsekuensinya, dari segi rohani, mereka harus terus menerus kembali ke titik nol. Tidak ada kemajuan dalam hubungan mereka bersama Kristus. Ada pembius instan bagi anak-anak itu: "Aku suka musiknya. Pembicaranya betul-betul menantang. Aku maju ke depan dan menyerahkan hidupku. Sebetulnya aku tidak tahu persis apa maksudnya, tetapi aku betul-betul berniat untuk maju".

Apakah mereka tidak tulus? Tidak, mereka tulus, tetapi mereka tidak tahu bagaimana mempersembahkan hidup dalam arti yang hakiki. Mereka perlu diberi pengertian tentang Yesus sebagai Tuhan bagi hidup mereka yang berfokus pada satu bagian yang spesifik dari hidup mereka sehari-hari.

Dalam sebuah kelompok penjangkauan kaum muda yang saya pimpin beberapa tahun silam, ada seorang gadis yang membutuhkan waktu 2 tahun untuk datang kepada Kristus. Namun ketika ia datang ia datang dengan keyakinan yang kuat. Setelah satu atau dua minggu menjadi orang Kristen, ia bertanya kepada saya, "Pak Ron, dapatkah Anda memberi saya satu cara untuk meyakinkan kakak perempuan saya Sue, bahwa tindakan saya ini murni?"

Sue, sang kakak, berkata kepada gadis tersebut, "Oh, Ann, engkau sebaiknya tidak lagi membicarakan itu. Minggu lalu narkotik. Minggu depan pemuda. Minggu ini Yesus. Berhentilah membicarakan Yesus."

Maka, Ann bertanya kepada saya, "Bisa tolong beritahu saya bagaimana saya harus menjawab komentarnya?"

Jawab saya, "Aku bisa, namun aku tidak bersedia, karena aku tidak menganggap engkau perlu membela diri. Ajukan saja pertanyaan ini kepada dirimu sendiri, ‘Perubahan apa yang dapat aku minta agar Yesus lakukan dalam diriku secara spesifik sehingga Sue melihatnya?"

Ia berkata, "Aku mengerti maksud bapak."

Ia berlalu, dan dua minggu kemudian saya bertanya kepadanya, "Bagaimana dengan Sue?"

Ujarnya, "Bagus; saya sudah memberi Tuhan sebuah kursi."

Saya berkata, "Kursi, apa maksudmu?"

Jawabnya, "Saya memberi Tuhan sebuah kursi. Begini, ada sebuah kursi empuk yang besar di ruang tamu kami. Warnanya merah, letaknya persis di depan televisi dan di sebelah jendela. Bila Sue dan saya mulai bertengkar, biasanya diawali dengan perdebatan mengenai siapa yang boleh duduk di kursi itu. Kami berdebat panjang lebar tentang kursi, dan kemudian disambung dengan perdebatan mengenai hal-hal lain. Jadi, saya memutuskan bahwa kalau saya meminta Tuhan membuat saya tidak egois dalam hal kursi, maka Sue akan melihat perubahan sikap saya. Sekarang Sue berkata, ‘Ann, kenapa kamu berubah?’ Ia sudah melihatnya! Itu lebih baik dari sebuah perdebatan."

Dua tahun berselang, Ann kembali mendatangi saya bersama Sue yang berkata, "Pak Ron, ada kabar baik dari Ann dan saya. Saya sudah menjadikan Kristus sebagai Juruselamat saya sendiri."

Apa yang disadari Ann dalam dua minggu pertama setelah ia menjadi orang Kristen, tidak disadari banyak orang dalam waktu 20 tahun. Ann belajar bahwa Kristus adalah Tuhan dari segala hal yang nyata, termasuk kursi, misalnya. Hanya Kristus sajalah yang dapat membuat tidak egois di tengah kehidupan keluarga maupun kehidupan sehari-hari. Kita tidak sekedar mempersembahkan seluruh hidup kita kepada Kristus, apapun bentuknya, karena Tuhan juga harus eksis pada setiap bagian kehidupan kita secara spesifik. Tugas kita ialah menolong seorang anak muda untuk dengan sadar membuat Kristus sebagai Tuhan dalam sikapnya terhadap saudara kandungnya selama 24 jam sehari. Bagian- bagian kehidupan itu dapat berupa hubungan, kebiasaan buruk tertentu, atau apa saja yang dapat menyebabkan ia menjadikan Yesus sebagai Tuhan pada hari itu.



PEMURIDAN YANG TERUKUR

Di satu pihak, para remaja betul-betul perlu mengatakan, "Ia adalah Tuhan dalam hidupku." Ia dapat memiliki apa saja yang Ia inginkan,namun itu harus diwujudkan dalam bentuk sesuatu. Setiap kali mereka menjumpai hal yang spesifik itu dalam keseharian mereka, pengertian Kristus sebagai Tuhan harus menjadi nyata, bak darah dan daging sehingga dapat disentuh, dapat dikecap, dapat ditangani, dapat diukur, seperti kursi. Menjadikan Yesus sebagai Tuhan dalam setiap bidang kehidupan secara spesifik akan menolong remaja untuk dimuridkan dengan cara yang mudah.

Beberapa hari sesudah hal tersebut dilaksanakan, perubahan jangka panjang akan terjadi di dalam kehidupan. Dampak dari hidup bersama Kristus selama beberapa hari berturut-turut yang mengalahkan titik-titik keras di dalam kehidupan kita akhirnya menghasilkan suatu persekutuan yang kuat bersama Dia. Pertumbuhan rohani dimana Kristus adalah Tuhan berarti bahwa hari ini Ia dijadikan sebagai Tuhan ketimbang kemarin. Sebagai contoh, saya tidak mengalah terhadap saudari saya hanya karena saya tahu bahwa besok saya dapat "bertindak impas" dengan bersikap kasar lagi terhadapnya pada hari berikutnya saya dapat membereskan masalah itu. Saya menyerahkan hubungan saya dengan dia kepada Kristus sebagai Tuhan, satu kali sehari, sampai hal ini menjadi sifat alami saya yang kedua dan saya dapat berkonsentrasi pada sebuah bidang lain. Sikap mengalah yang terus-menerus merupakan dampak dari membalikkan bagian-bagian spesifik dalam hidup saya kepada Dia setiap hari.

Sepanjang kita terus membuat tindakan mempersembahkan dan menguduskan hidup kita sebagai sesuatu yang umum, kita dapat bersembunyi pada yang umum itu dari tuntutan-tuntutan Kristus. Seseorang tidak perlu harus memenuhi tuntutan-tuntutan Kristus sepanjang ia dapat membuat itu sebagai sesuatu yang umum. Saat Kristus mulai terkait dengan semua aspek dalam kehidupan kita, saat itulah kehidupan kristiani kita menjadi sesuatu yang nyata.

Bagaimana seorang remaja tahu apa yang harus diberikan kepada Dia? Ia harus membaca Alkitab. Yakobus 1 berkata bahwa Alkitab adalah sebuah cermin, dan kita bercermin untuk melihat apa yang perlu dikerjakan (ayat 23-25). Pendekatan "apa yang Yesus ingin lakukan hari ini?" terhadap Firman Tuhan ini memberi seorang anak muda tujuan dari saat teduh – yang seringkali merupakan sebuah kata kristiani lain tanpa definisi.

Ada sebuah alasan bagi seorang remaja untuk duduk dan berkata, "Tuhan, aku ingin Engkau menerapkan apa yang aku baca hari ini pada suatu bidang tertentu di dalam hidupku. Lalu, aku akan tahu bahwa itu adalah bagian dimana aku dengan sadar menjadikan Engkau sebagai Tuhan pada hari ini."

Bukankah indah kalau menjadi salah satu dari 12 murid yang bangun di pagi hari sambil berkata, "Kemana kita akan pergi hari ini Yesus? Dimana Engkau ingin aku berada?" Benar, kita boleh bertanya seperti itu, tetapi hanya melalui kitab suci. Doronglah remaja untuk bertanya kepada Yesus, "Kemana Engkau ingin aku berada hari ini? Bagian mana yang Engkau ingin jamah hari ini? Dimana aku dapat menyentuh Engkau?"

Dalam Yosua 5, ketika malaikat Tuhan berdiri di depan Yosua pada malam sebelum pertempuran di Yerikho, Yosua berkata, "Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?" (ayat 14). Dengan cara inilah kita membaca Alkitab. Pertanyaan inilah yang diajukan setiap kali kita membukanya. Bentuk pertumbuhan yang aktif ini menghasilkan "tindakan mempersembahkan hidup" sebagai hasil dari yang umum 24 jam sehari.

Doa merupakan sebuah bidang lain yang acapkali diajarkan kepada anak muda dengan istilah yang umum. Mereka perlu diajar tentang doa yang spesifik. Doa-doa kita begitu umum isinya sehingga kita tidak akan tahu jawabannya saat jawaban itu hadir dalam kehidupan kita." Tuhan, berkati kami." "Berkat" apakah itu dan bagaimana kita tahu ketika berkat itu datang? Sulit untuk mengenali suatu berkat ketika berkat itu lewat.

Kita berdoa, "Tuhan, berkatilah para utusan Injil." Utusan Injil yang mana dan berkat apa? Apa persisnya yang kita harapkan dapat terjadi? Bahkan, ada sebuah bahasa untuk berdoa yang semata-mata bahasa doa. Ketika berdoa, kita tidak berbicara seperti pada kesempatan-kesempatan lain. Misalnya, kita berdoa untuk "perlindungan selama perjalanan". Kapan terakhir kalinya Anda berkata kepada seseorang, "Kiranya perjalananmu menyenangkan dan terlindungi"? hanya ketika orang-orang Kristen berdoa sajalah, maka mereka berkata seperti itu.

Banyak diantara doa kita yang begitu umum dan dapat diprediksi sehingga tidak mempunyai arti dan lemah. Para remaja perlu diajar untuk berdoa secara spesifik. Filipi 4:6-7 berkata, "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga," tetapi berdoalah untuk segala sesuatu. Dan, "Nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah." Kekuatiran adalah sesuatu yang spesifik. Jika ada orang yang menanyai Anda tiga hal apa yang Anda kuatirkan pada saat ini, maka Anda tidak akan menyebutkan hal-hal umum seperti "hidup saya". Kita mengkuatirkan hal-hal yang spesifik seperti tagihan yang harus dibayar. Menurut ayat tersebut, Tuhan ingin agar doa kita dinyatakan sespesifik kekuatiran kita. Kita perlu mengajar anak muda untuk mengetahui apa yang mereka minta dan untuk menyatakannya kepada Tuhan ketika mereka berdoa.

Ibrani 4:16 adalah undangan untuk datang ke tahta kasih karunia dengan berani. Dikatakan disitu, "Supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. "Adalah mengagumkan untuk membuat kuasa Tuhan yang besar itu turun ketika ada satu kebutuhan yang spesifik. "Bersikaplah spesifik terhadap-Ku", ini yang sedang Tuhan katakan. Para remaja perlu mengenal kuasa dari doa yang spesifik.


BAGAIMANA ANAK MUDA DIMURIDKAN

Kata "pemuridan" sendiri mengalami banyak penyamarataan yang tidak tetap. Setiap pemimpin kaum muda sadar bahwa ia seharusnya melakukan pemuridan, namun banyak yang tidak tahu apakah maksudnya atau bagaimana melaksanakannya. Proses pemuridan seorang anak muda – mengaitkan kepercayaannya dengan perilakunya – perlu diwujudkan dalam langkah-langkah praktis yang dapat kita pahami dan kita laksanakan.

Proses pemuridan bukanlah sesuatu yang dapat dilaksanakan dari atas mimbar. Biasanya, pemuridan tidak dilakukan pada sebuah kebaktian atau melalui sebuah program, tetapi melalui kontak pribadi. Dan, prosesnya adalah penyampaian kebenaran dengan tatap muka.

Istri saya menyukai fotografi, dan ia pernah menjelaskan kepada saya mengenai afdruk foto, pada dasarnya, film yang akan diproses itu langsung disinggungkan dengan kertas foto yang belum pernah tersentuh. Kalau film dan kertas sudah pernah disentuh, maka tidak akan terjadi pemindahan gambar.

Itulah persisnya gambaran mengenai pemuridan. Tidak akan terjadi pemindahan sifat seperti Kristus dari hidup seseorang kepada hidup orang lain kecuali ada kontak langsung. Mustahil untuk melaksanakan pemuridan dengan skala besar. Paulus memuridkan Timotius secara pribadi, dengan mengijinkan dia masuk ke dalam kehidupannya.

Mampukah seorang pekerja kaum muda memuridkan sebuah kelompok kecil? Pasti. Yesus melakukannya. Kenyataannya, pola pemuridan yang dicontohkan oleh Tuhan biasanya dilakukan perkelompok yang terdiri atas 12 orang atau 3 orang, kendati Ia menyediakan waktu untuk memuridkan mereka satu persatu juga. Keduanya dapat menjadi efektif. Sejumlah keuntungan yang diperoleh dari pemuridan kelompok ialah, menghemat waktu, remaja terkait tahu bahwa ia tidak sendirian, tidak terlalu membuatnya gelisah, dan ada akuntabilitas yang dibentuk. Sebagaimana yang dikatakan Pengkhotbah 4:9-10, "Berdua lebih baik daripada seorang diri, …. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya."

Sebuah keuntungan yang kuat yang diperoleh dari sebuah kelompok kecil ialah bahwa tidak hanya akuntabilitas terhadap pemimpinnya, tetap juga ada sejenis tekanan yang positif dari teman sekelompok. Acapkali, tekanan semacam itu dapat membuat seorang remaja merasakan bahwa melakukan sesuatu adalah perbuatan yang salah. Benar, tidakkah tekanan teman sebaya dapat digunakan untuk kebaikan dengan cara memuridkan? Seorang remaja mulai berpikir, "Setiap orang sedang melakukan apa yang benar dalam kelompok, jadi itulah alasan yang baik untuk melakukannya juga."

Yesus adalah Penemu dari pemuridan kristiani. Kalau kita memperhatikan Dia mengubah murid-murid-Nya yang tidak tahu apa-apa menjadi pemimpin-pemimpin yang mengubah jalannya dunia, kita dapat memahami proses pemuridan yang hidup. Proses ini dapat dijabarkan menjadi lima langkah spesifik.


Biarkan Anak-anak Itu Masuk ke Dalam Kehidupan Anda

Perhatikan apa yang Yesus lakukan dengan dua belas murid (sebelas begitu Yudas meninggalkan mereka). Yesus memberikan teladan yang terbaik untuk memuridkan dari dekat. Ada sebelas orang kebanyakan yang akhirnya membalikkan dunia seratus delapan puluh derajat di dalam sebuah generasi melalui pengaruh-pengaruh dari pekerjaan mereka. Kita semua harus berbesar hati, karena Yesus tidak mengawalinya dengan pahlawan-pahlawan yang sudah terlebih dahulu ada. Ia memuridkan dengan cara yang sangat mendasar namun membuahkan hasil yang baik.

Apa yang Ia lakukan? Ia mengijinkan mereka masuk ke dalam kehidupan- Nya. Ia mengajak mereka pergi bersama-Nya, dan mereka menyaksikan Dia marah ketika Ia berada di Bait Suci dan membalikkan meja-meja milik pedagang. Para murid melihat Yesus mengatasi kedukaan ketika Ia menangis di depan kubur Lazarus. Mereka melihat Dia berjuang untuk mengatasi kesedihan sementara Ia merasakan pengalaman yang mengerikan di Getsemani. Ia tidak pergi sendirian ke taman itu; Ia membawa tiga murid-Nya untuk memberi-Nya dukungan. Mereka mampu melihat pergumulan Yesus dalam mewujudkan rencana Bapa dan tanggapan Yesus terhadap hal itu. Ia mengijinkan mereka melihat bagaimana ia menangani keluarga- Nya sementara ibu dan saudara-saudara-Nya datang dan mengajukan permintaan kepada Dia. Murid-murid itu melihat bagaimana Ia menjalani jadwal-Nya yang menimbulkan stres ketika orang-orang dari berbagai arah menggamit Dia seraya mengatakan, "Yesus, di sini. Tidak, Yesus – di sebelah sini; aku membutuhkan Engkau."

Di mana pun juga Yesus mengizinkan murid-murid itu masuk ke dalam hidup- Nya. Begitulah prosesnya sehingga mereka menjadi seperti itu. Mereka tidak hanya sekelompok siswa yang duduk dan membahas seluk beluk dari apa yang sedang Ia ajarkan. Ia memang mengajar, namun ajaran itu selalu merupakan sebuah pengalaman belajar terpadu di mana murid-murid-Nya akan mengetahuinya dan menerapkan, mengetahuinya dan menerapkan, seringkali pada hari yang sama. Yesus memberikan teladan bagi kita bahwa pemuridan ialah mengaitkan kepercayaan dengan perilaku.

Pemuridan merupakan proses yang tidak kasat mata dan tidak dapat diukur, tetapi penuh kuasa. Ini ibarat afdruk foto untuk memindahkan gambar. Para murid Yesus boleh diberi julukan "geng yang berkeliaran". Mereka senantiasa bersama Dia dan menyaksikan firman menjadi manusia. Adalah mustahil bahwa sebuah kebaktian dapat melaksanakan pemuridan. Terjun langsung di lapangan memungkinkan murid-murid yang potensial memiliki jarak pandang yang sangat dekat dengan seseorang yang mengaitkan hakikat yang mereka percayai dengan perilaku mereka.


Bawa Mereka Kemana pun Anda Pergi

Langkah kedua dalam proses pemuridan juga berasal dari teladan yang diberikan Yesus, yaitu, bawalah mereka kemana pun Anda pergi. Adalah penting untuk membuat komitmen secara sadar bahwa ketika Anda akan pergi ke suatu tempat, Anda bertanya, "Siapa yang dapat kuajak serta? Adakah sesuatu yang kukerjakan saat ini yang mengharuskan aku mengajak satu atau dua anak itu?"

Apakah tugas para murid itu? Markus 3:14 memberikan deskripsi itu, ketika mengatakan bahwa, "Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia." "Tuhan, apakah tugas kami?"

Yesus berkata, "Tetaplah bersama-Ku."

"Yah, tetapi apa yang Engkau ingin kami lakukan?"

Yesus hanya menjawab, "Tetaplah bersama-Ku."

Tugas pertama dari seorang murid hanyalah menyertai orang yang memuridkan dia. Markus 3:14 selanjutnya mengatakan bahwa Kristus mengutus mereka untuk berkhotbah. Tetapi, mereka tidak langsung berkhotbah; pertama, mereka harus bersama Dia terlebih dahulu. Yesus berkata, "Ayo, dimana Aku berada, disitulah engkau harus berada."

Konon, jika seluruh periode waktu dalam kitab Injil dijumlahkan, barangkali hanya ada kira-kira tiga atau empat bulan yang dicatat. Apa yang Yesus dan murid-murid lakukan selama dua tahun dan beberapa bulan lainnya? Saya pikir, mereka berjalan sambil berbincang-bincang. Ulasan bahwa mereka berjalan-jalan tidak menghadirkan ayat-ayat yang menarik. Namun kalau membaca seluruh Perjanjian Baru, kita melihat bahwa mereka mengunjungi banyak tempat. Kita membaca mengenai hal ini dengan cepat di dalam Alkitab, tetapi mereka berjalan sambil berbincang-bincang dimana-mana.

Ada semacam pangkalan persekutuan yang nyata dalam pelayanan Yesus, karena Ia berkata, "Kemarilah bersama-Ku." Mudah untuk membayangkan adegan- adegan ketika Yesus dan murid-murid-Nya berjalan-jalan sambil berbincang-bincang mengenai ekonomi, bagaimana mendapatkan uang untuk membeli bahan pangan, apa yang terjadi di kota Roma, bahkan gurauan yang paling mutakhir termasuk percakapan-percakapan rohani yang dicatat dalam Alkitab. Banyak hal sehari-hari yang menjadi bahan pembicaraan, karena Yesus mengajak mereka kemana pun Ia pergi.

Proses pemuridan berkata, "Aku akan ke toko. Mengapa aku tidak menelepon dia? Aku akan ke mal. Mengapa aku tidak mengajak dia? Aku akan main golf mini. Mengapa aku tidak membawa …?" Adalah sebuah pola pikir yang sudah baku kalau mengatakan, "Kalau mungkin, aku akan mengajak satu orang dari kelompok yang sedang aku muridkan."

Selama kurun waktu kebersamaan itu, tidak harus dibuat agenda yang padat untuk kebaktian dengan anggapan, "Saat kami bersama, aku ingin mengajarkan kepada mereka tiga kebenaran mengenai tujuan hidup." Penerapannya agak lebih sukar ketimbang bermain golf mini. Intinya, orang yang sedang memuridkan tidak hanya mengunjungi banyak tempat semata, tetapi ia juga harus menangkap kesempatan-kesempatan yang baik.

Proses menularkan kebenaran rohani secara alami ibarat mengikuti mata pelajaran tentang kehidupan sehari-hari. Di tempat itulah kebenaran yang paling hakiki disampaikan. Tuhan menggambarkan hal ini dalam Ulangan 6:6-7, dan kendati perikop itu ditujukan bagi para orang tua, prinsipnya masih berlaku bagi orang yang memuridkan pada umumnya. "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang- ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." Anda melihat betapa alaminya proses pengajaran tersebut, bukan? Melakukan sesuatu bersama-sama memberikan atmosfir yang terbaik untuk menyampaikan kebenaran.


Tantanglah Iman Mereka

Langkah ketiga dalam proses pemuridan, berdasarkan teladan yang Yesus berikan, ialah menantang iman mereka. Yesus melakukan ini berulang-ulang. Sebagaimana yang sudah kita lihat, dalam Matius 16 Yesus menanyai para murid siapakah Dia menurut orang-orang di sana, "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Sementara mereka mulai memberikan laporan mengenai survei yang sudah mereka lakukan, Ia bertanya, "Menurut-mu, siapakah Aku?" Ia senantiasa menantang iman mereka dengan mengatakan, "Tunggu dulu. Dari mana engkau tahu?"

Sebuah alasan mengapa anak muda Kristen seringkali bungkam ketika ditanya mengenai hal itu ialah karena mereka terpaku pada satu kata: seharusnya. "Apakah yang seharusnya kukatakan?" Tepat sekali kalau hal ini terlintas dalam benak kita saat kita berbicara dengan mereka. Mereka duduk di sana – sebagaimana yang juga dilakukan oleh banyak orang dewasa – sambil memproses apa yang sedang dicari oleh pemimpin. Mereka tidak mengutarakan jawaban mereka, apa yang mereka percayai, atau apa yang mereka coba atasi; sebaliknya, mereka berpikir, "Apakah jawaban yang benar? Bagaimana seharusnya aku menjawab? Apa yang seharusnya aku katakan?"

Anak muda perlu mendengar berulang-ulang pernyataan ini: "Satu-satunya jawaban yang harus kamu berikan ialah apa yang betul-betul kamu rasakan. Aku tidak ingin mendengar jawaban yang magis atau yang sudah kamu pelajari. Apa yang kamu pikirkan? Aku tidak peduli jika itu berlawanan dengan apa yang aku pikir. Nyatakan saja kebenaran kepadaku." Pekerja yang efektif untuk pelayanan kaum muda akan menantang iman remaja dan berusaha supaya mereka memahami firman. Efesus 5:17 berkata, "Usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan." Itulah yang harus menjadi sasaran kita sebagai orang dewasa yang mempedulikan anak muda.

Beberapa tahun silam seorang pembicara di sebuah kamp kaum muda mengatakan di penghujung sesi, "Anak-anak, aku ingin kalian memberi semua alasan unik untuk menjadi orang Kristen. Dengan kata lain, tidak ada yang akan berbicara mengenai hal ini. Apakah ada satu alasan unik untuk menjadi orang Kristen? Yakinkan aku." Jawaban-jawaban mulai berdatangan dan itu dituliskannya di atas papan tulis: "pengampunan dosa", "hidup kekal", "damai", "kebahagiaan", dan lain-lain.

Seusai menuliskan semua frasa itu, ia berkata, "Ayo, kita hapus semua ini yang tidak unik bagi kekristenan. Dalam agama-agama lain, ada sebuah konsep untuk membuat dosa seseorang diampuni, yaitu jika ia melakukan hal yang benar. Jadi, mari kita hapus ini. Hidup kekal, itulah semua sasaran mereka." Begitu selesai menghapus semua frasa itu, papan tulis terlihat bersih dan tidak ada alasan yang tersisa untuk menjadi orang Kristen berdasarkan apapun juga. Ia melangkah ke tepi podium sambil berkata, "Sampai ketemu lagi besok pagi."

Banyak pemimpin kaum muda biasanya berkata, "Hei, pecat orang ini dan suruh dia pulang. Seharusnya ia memberi jawaban. Para remaja tidak menginginkan pertanyaan; mereka ingin jawaban."

Menarik sekali ketika pada kamp hari itu terdengar pertanyaan, "Mengapa kita harus menjadi orang Kristen?" Coba tebak apa yang dibidik orang tersebut? Jawaban yang tepat atau pengertian? Ia sedang membidik pengertian. Namun keesokan paginya, apakah Anda beranggapan bahwa mereka berhasrat untuk membicarakan masalah itu? Ya, mereka suka, dan saya merasa senang bahwa ia sudah membuat anak-anak itu penasaran.

Pagi itu ia mulai membicarakan tentang dua hal unik dalam kekristenan: konsep kasih karunia, bagaimana Tuhan datang bagi kita, bukannya kita datang bagi Dia; dan kebangkitan. Intinya bukan sekedar melakukan latihan, melainkan bahwa ia tahu apa yang dibutuhkan oleh orang-orang ialah pengertian.

Jadi, jangan terima retorika dari para remaja. Jika memberikan jawaban yang retorik, bagus sekali kalau membuat remaja-remaja itu mendefinisikannya. Jika mereka berkata, "Oh, pengabdian," katakanlah, "Itulah sebuah kata yang sering aku dengar. Apa artinya? Bagaimana kamu mengabdikan hidupmu?" Anak muda akan berpikir, Apa? Aku sudah memberi jawaban yang tepat. Jangan tanya-tanya lagi.

Apakah maksud seorang pekerja kaum muda yang mengatakan, "Kamu perlu beribadah setiap hari?" Ada kalanya seorang anak muda bisa memberikan jawaban berbau kristiani yang tepat, jadi tanggapan yang baik adalah, "Kamu sadar bahwa 90 persen dari remaja-remaja di sekolahmu tidak mau menerima apa yang baru saja kamu katakan. Jadi, kenapa aku harus menerima?" Remaja itu akan beranggapan, Hei, tidak adil.

Kalau baru beberapa kali melontarkan pertanyaan itu, maka tidak baik kalau hanya berfokus pada satu anak. Adalah bijak kalau seluruh kelompok mendapat pertanyaan yang sama. Jika fokusnya hanya pada satu orang dengan mengatakan, "Paul, apa yang kamu maksudkan dengan jawaban itu?", maka para remaja akan mulai merasa bahwa mereka sedang dihukum karena jawaban yang mereka berikan. Oleh karena itu, pekerja muda sebaiknya menanyai seluruh kelompok, "Bagaimana kita mendefinisikan kata ini? Kebanyakan dari teman-temanmu tidak mempercayai nya. Mengapa aku harus percaya? Yakinkan aku, dan buat aku percaya. Dimana tentang ini ditemukan dalam Alkitab?" Boleh jadi kelompok itu tidak mampu menunjukkan letaknya di dalam Alktiab, maka pekerja kaum muda dapat mengatakan, "Ya, aku tidak tahu kenapa aku harus percaya kalau kalian tidak bisa mengatakan di mana letaknya. Seusai pertemuan ini aku akan memandu kalian untuk menemukan sejumlah ayat, tetapi pastikan bahwa kalian melandaskan keyakinan dan pilihan kalian pada apa yang ditemukan dalam Alkitab. Jangan melandaskan hidupmu pada apa yang kalian tidak dapat temukan dalam firman Tuhan atau yang bertolak belakang dengan Alkitab."

Ketika menantang iman para remaja, keberhasilan tidak berarti bahwa meerka memberikan jawaban yang benar. Generasi ini, yang siap dengan jawaban-jawaban yang benar, sedang menjalani kehidupan yang tidak benar. Jawaban-jawaban tidak membuat mereka hidup benar. Pemahamanlah yang membuat mereka hidup benar. "Mengapa kamu mempercayai itu? Mengapa itu benar?" Ketika anak muda bisa mendefinisikan kata-kata itu, berikan alasan yang kuat untuk apa yang mereka yakini, dan dukunglah mereka sesuai dengan Firman Tuhan, maka akhirnya mereka akan memahami.

Kenapa tantangan menjadi begitu penting? Karena ada orang dalam hidupnya yang akan menantang iman mereka. Akan lebih baik jika tantangan pertama terhadap iman mereka datang dari seorang sahabat Yesus, bukannya dari seorang musuh Yesus. Kita boleh merasa pasti bahwa pada suatu hari seorang musuh Yesus akan menantang hakikat apa yang mereka yakini.

Sebuah kelas dalam satu sekolah lanjutan atas setempat diajar oleh seorang yang pernah belajar di sekolah teologia untuk menjadi pendeta, namun akhirnya ia menjadi ateis. Biasanya para siswanya berkata, "Seharusnya ia tahu. Ia belajar selama tujuh tahun untuk menjadi pendeta, tetapi ia tidak percaya kepada Tuhan." Suatu kali ia meminta saya untuk datang ke sekolah tersebut dan menyajikan sudut pandang Kristen, yang mengejutkan saya, namun kami saling menghormati. Suatu hari ia berkata kepada saya, "Ron, sesuatu yang kulihat dari para remaja ialah bahwa ada apa yang Anda sebut sebagai orang Kristen lahir baru dan lalu ada bermacam tipe anak-anak di kelasku yang tidak seperti mereka, termasuk yang ateis (tidak ber-Tuhan) dan agnostik (Tuhan tidak mungkin diketahui)." Ujarnya, "Engkau tahu kesamaan apa yang mereka miliki? Tidak ada seorang pun diantara mereka yang tahu mengapa mereka adalah mereka. Mereka semata-mata sebuah kategori."

Ada orang yang berkata, "Saya ateis." "Kenapa?" "Ya, karena saya tidak percaya kepada Tuhan." "Kenapa?" Ada orang lain yang membuat pernyataan, "Saya orang Kristen." "Kenapa?" "Orang tua dan gereja saya mengatakan demikian." Semua itu basi. Tidak seorang pun tahu mengapa mereka adalah mereka, dan mereka perlu tahu mengapa.

Dengan menantang iman para remaja, kita tidak sedang menggoyahkan atau menghancurkan iman mereka. Kita sekedar membantu mereka mencermati iman mereka dan membuatnya menjadi iman mereka sendiri. Iman yang tidak ditantang bukanlah iman yang dimiliki. Itulah sebabnya Tuhan kita menguji iman dari murid-murid-Nya sendiri.


Tangani Kelemahan Mereka

Langkah keempat dalam proses pemuridan ialah menangani kelemahan mereka. Sebuah contoh mengenai hal ini dapat dibaca dalam Lukas 8:24-25. Banyak contoh dapat ditemukan dalam pekerjaan Yesus dengan murid-murid-Nya, seperti ketika mereka melihat Yesus memberi makan lima ribu orang. Benar, ini menggambarkan pemuridan di alam terbuka, di tepi danau dan ketika badai menerpa. Kendati mereka sudah menyaksikan kuasa Yesus dalam membuat mujizat, mereka agaknya tidak dapat meyakini kuasa Yesus ketika terjadi badai. Jadi, mereka mulai berteriak, "Guru, Guru, kita binasa!"

Pertama, Ia meredakan badai itu dahulu, kemudian Ia bertanya, "Dimanakah kepercayaanmu?" Dalam Kitab Injil, Ia mengucapkan kalimat itu berulang kali Ia menguji iman mereka. Barangkali Ia berpikir, Jika, mereka tidak memiliki iman yang lebih besar, mereka tidak akan berhasil mengatasi situasi. Ia melihat salah satu kelemahan mereka, yaitu iman yang kecil. Maka, Ia terus mempersoalkan titik lemah yang dapat membuat mereka tersandung itu.

Dalam diri setiap remaja, ada sesuatu yang suatu hari akan membuat mereka hancur kecuali itu ditangani sejak dini. Pada hakikatnya, kita semua mempunyai cacat yang fatal dan di atas pemetaan strategi menyeluruh milik iblis di neraka, sudah ada tanda titik merah yang menandai wilayah-wilayah kelemahan kita. Iblis akan membidikkan panah-panah berapi pada kelemahan-kelemahan remaja dalam memperlengkapi dirinya.

Tugas kita sebagai orang yang memuridkan ialah menemukan dan menangani kelemahan-kelemahan dalam diri remaja yang dapat membuat dia tersandung. Kita bisa mendapat hak untuk melakukan hal itu dengan mengutarakan kepadanya bahwa kita betul-betul mempercayai dia. Apabila ia sudah merasa mantap dengan niat yang gigih dan baik dari seorang pekerja kaum muda, maka pekerja terkait berhak untuk mengatakan, "Scott, kukira sekarang kamu tahu bahwa aku mempercayai kamu dan potensimu. Akan kubuktikan ucapanku ini. Aku juga ingin jujur terhadapmu, dan akan kulakukan apa yang kuharap sudah dilakukan oleh seseorang terhadapku. Ada satu hal yang kukira dapat membuatmu berbuat keliru suatu hari kelak. Dan, jika engkau ingin aku memberitahu kepadamu apakah itu, jangan ragu-ragu, tanyakan saja dan akan kutunjukkan."

Bagus sekali kalau berusaha membuat anak yang dimuridkan bertanya apakah itu. Pada titik ini, pintu terbuka untuk mengatakan, "Menurutku, satu bidang yang kadangkala masih menjadi pergumulanmu ialah otoritas." Atau "Kukira, suatu hari kecenderunganmu untuk marah bila kau tidak berhasil mendapatkan apa yang kau inginkan akan membuatmu tersandung." Atau "Caramu memelihara komitmen kurang begitu kuat. Yesus berkata, ‘Jika ya, Betul, adakalanya ‘ya’ yang sudah kau ucapkan berubah menjadi ‘tidak’." Buatlah pendekatan yang lembut dengan mengatakan, "Kukira, yang menghambat pertumbuhanmu adalah …."

Remaja tersebut perlu tahu bahwa Anda mendampingi dia dalam bekerja sama untuk menangani kelemahannya dan mencarikan jawaban-jawabannya dari Alkitab, jika ia ingin. Ia perlu mendengar, "Kamu terlalu baik untuk memiliki kehidupan yang hancur. Kamu terlalu baik untuk terpuruk. Terlalu banyak bagian yang harus kau buat sehingga kukira iblis akan berusaha menghambatmu suatu hari, dan ia bisa menggunakan kelemahanmu ini. Ayo, kita perbaiki. Jika engkau terus bertahan, maka engkau tentu ingin menghilangkan kelemahan ini. Inilah satu lubang yang ingin iblis masuki. Kita harus menutupnya."


Beri Mereka Tanggung Jawab

Langkah kelima dan terakhir dalam proses pemuridan ialah memberi mereka tanggung jawab. Ada beberapa contoh mengenai hal ini dalam Kitab Injil, tetapi satu yang baik ditemukan dalam Lukas 9:12-17, dimana Yesus memberi makan lima ribu orang. Untuk membuat mukjizat tersebut, Yesus tidak membutuhkan kedua belas murid-Nya. Jika Ia sanggup menyediakan makan siang untuk lima ribu orang, maka Ia tidak membutuhkan murid-murid itu. Namun, perhatikanlah bagaimana Ia menghadapi masalah tersebut. Para murid-Nya mendatangi Dia dengan berkata, "Tuhan, kami punya masalah. Makanan tidak ada, padahal banyak sekali orang. Apa yang harus kami lakukan?"

Yesus berkata, "Benar katamu, kita punya masalah. Kenapa kalian tidak memberi mereka sesuatu untuk dimakan?" Betapa tepat jawaban Yesus! Ia tidak mengatakan, "Serahkan masalah ini kepada-Ku." Sebaliknya, Ia berkata, "Cari sesuatu untuk mereka makan."

Lalu, mereka meninggalkan tempat itu dan menemukan anak lelaki miskin yang membawa dari rumah dua roti berlapis ikan. Roti itu adalah makanan kesukaan nya dan bahkan jumlahnya sendiri tidak memadai bagi dia. Tiba-tiba ada satu orang dewasa yang berdiri di sampingnya yang berkata, "Aku ingin roti milikmu." Anak lelaki itu berpikir, Aku pun juga. Lalu, ia sadar bahwa orang dewasa tersebut adalah seorang murid yang mengatakan, "Yesus ingin roti ini."

Murid-murid-Nya tidak bisa melakukan mukjizat, tetapi Yesus betul-betul membuat mereka melakukan apa yang mereka mampu lakukan. Maka, mereka mendapatkan makan siang, dan berkatalah Dia, "Suruhlah mereka duduk berkelompok-kelompok, kira-kira lima puluh orang sekelompok." Ia kemudian melibatkan diri dalam pengadaan sumber-sumber terkait, dan Ia meminta mereka terlibat dalam mukjizat yang akan diadakan. Setelah mereka mengatur orang-orang yang lapar itu, Ia memberikan roti berlapis ikan tadi kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan. Sebetulnya, Yesus dapat menyediakan makanan secara mukjizat di tangan orang-orang itu, akan tetapi Ia memberi murid-murid-Nya tanggung jawab. Maka, Petrus pun membagi-bagikan makanan itu sambil bertanya-tanya, Dari mana asal semua ini?

Dengan memberi murid-murid itu makanan yang dibagikan, Yesus melatih mereka dan memberi mereka tanggung jawab. Memberi tanggung jawab kepada remaja adalah sebuah kunci untuk proses pendisiplinan. Ya, remaja perlu memiliki pemahaman dan berada dimana orang yang memuridkannya berada. Akan tetapi, sepanjang proses itu mereka perlu diberi lebih banyak tanggung jawab.

Ada kuasa yang menakjubkan kalau mempercayai para remaja. Ketika mereka tahu bahwa ada seorang dewasa yang mempercayai mereka, mereka akan berusaha memegang kepercayaan tersebut. Saya mendorong para orang tua untuk berkata kepada anak-anak mereka, "Inilah yang aku percayai sebagai keputusan yang tepat, tetapi aku mempercayai kamu." Anak muda itu lebih tanggap apabila dipercayai ketimbang diawasi secara ketat.

Saya ingat pengalaman pribadi yang dapat dijadikan contoh bagaimana mempercayai seorang remaja menjadi terobosan yang nyata di dalam kehidupan seorang anak yang keras. Suatu malam saya memberi dia kunci mobil dan meminta dia untuk menggeser mobil di jalan masuk mobil. Tindakan saya terlihat tidak penting. Sebetulnya, anak muda tersebut sedang bermasalah sehingga ia tidak dipercayai oleh banyak orang dewasa. Malam itu saya memberi dia kunci mobil saya, dan mempercayai dia dengan cara yang sepele, melakukan sesuatu kepada dia.

Karena anak muda tanggap terhadap kepercayaan yang dipercayakan kepadanya, adalah baik untuk membuat mereka tahu bahwa ada sesuatu yang diharapkan dari mereka. Remaja-remaja kita kurang ditantang – namun mereka dapat melihat sekilas gambaran mengenai diri mereka yang seharusnya, sementara pemimpin kaum muda mereka mengharapkan yang terbaik dari mereka dan mempercayai mereka dengan pekerjaan maupun tugas.



Judul: Perjuangan Untuk Sebuah Generasi
Pengarang: Ron Hutchcraft
Penerbit: Metanoia Publishing
Halaman: 131-147
 

Pictures

aussie04.jpg