MEMBERI DENGAN TUJUAN UNTUK MENDAPATKAN, ALKITABIAHKAH?
Thema: Memberi
Jarang sekali hamba Tuhan yang mempermasalahkannya sehingga "memberi untuk mendapatkan" ini dianggap sebagai suatu kebenaran yang mutlak. Kebanyakan umat Tuhan akhirnya menganggap bahwa memang inilah yang dikatakan firman Tuhan mengenai "memberi". Tanpa mereka sadari, perhatian dan konsentrasi mereka mulai diarahkan pada konsep yang tidak benar. Konsep mereka hanyalah diarahkan pada hukum "memberi untuk menerima" atau seringkali disebut hukum "tabur-tuai" dengan tujuan untuk memuaskan keinginan mereka. Hukum ini memang tidak salah, jika motivasi utamanya adalah keinginan untuk memuliakan nama Tuhan. Sayangnya, umat Tuhan banyak yang sering kali menerapkan kebenaran ini dengan berfokus pada kepentingan mereka sendiri. Akibatnya, mereka tidak mengindahkan konsep-konsep firman Tuhan yang lain sehingga penerapan hukum ini hanya melihat dari sisi kepentingan umat Tuhan sendiri dan kurang (atau bahkan sama sekali tidak) memperhatikan kepentingan Tuhan.
"Kebenaran hukum tabur tuai ini" memang sangat gampang diselewengkan menjadi kebenaran yang hanya berfokus pada kepentingan umat Tuhan saja. Hal ini terjadi karena kebanyakan manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan mendapatkan sesuatu daripada memberikan sesuatu. Ini merupakan kenyataan yang tidak bisa dibantah lagi. Kebanyakan mereka tidak akan keberatan untuk memberikan sesuatu kepada siapapun (baik kawan maupun lawan, bahkan Tuhan maupun setan sekalipun) asalkan mereka bisa mendapatkan sesuatu dalam jumlah/kapasitas yang lebih besar lagi.
Ini adalah konsep dari investasi yang umum, yang ada dalam pikiran manusia baik yang sudah mengenal Tuhan maupun yang belum. Kebanyakan orang rela memberikan/melakukan pengorbanan asalkan mereka bisa menghasilkan keuntungan yang lebih besar daripada pengorbanan yang sudah dilakukan. Jika konsep ini diterjemahkan dalam bahasa kekristenan, maka akan menjadi "berilah, maka kamu akan mendapatkan dalam jumlah yang besar". Jika hukum ini diterapkan tanpa diperlengkapi dengan konsep hubungan antara Bapa dengan Anak-Nya, maka konsep ini akan banyak disalahgunakan dan dimanipulasi hanya untuk kepentingan umat-Nya yang tidak tahu diri.
Bersiap-siaplah untuk berpikir ulang mengenai memberi yang mungkin berbeda dengan yang sudah pernah diajarkan oleh para pemimpin Anda selama ini! Pemberian Anda tidak hanya untuk memuaskan keinginan Anda, tetapi juga membuat rencana Bapa di muka bumi ini segera terlaksana.
Saya berharap kemarahan Tuhan yang disampaikan kepada bangsa Israel pada zaman Nabi Yeremia tidak terjadi pada umat Tuhan di akhir zaman ini. Saya berharap, umat Tuhan tidak hanya mengejar keuntungan sehingga pikiran mereka hanya tertuju pada apa yang bisa mereka dapatkan.
Sebab itu Aku akan memberikan isteri-isteri mereka kepada orang lain, ladang-ladang mereka kepada penjajah. Sesungguhnya, dari yang kecil sampai yang besar, semuanya mengejar untung; baik nabi maupun imam, semuanya melakukan tipu. (Yeremia 8:10)
Paulus juga memberikan nasehat kepada Timotius supaya berjaga-jaga terhadap orang- orang yang kehilangan kebenaran Tuhan. Orang-orang yang menganggap ibadah adalah sumber keuntungan bagi mereka. Orang-orang seperti ini hanya memikirkan diri mereka sendiri ketika mereka melakukan firman Tuhan.
Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat-perkataan Tuhan kita Yesus Kristus- dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita, ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan. (1 Timotius 6:3-5)
Setelah membaca buku ini, saya berharap semua umat Tuhan akan bisa berkata seperti perkataan Paulus di bawah ini.
Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. (1 Timotius 6:6)
Dengan demikian, umat Tuhan akan menjadi alat Tuhan yang dahsyat untuk menunjukkan kasih dan kuasa-Nya di muka bumi ini. Mereka hidup tidak memikirkan diri mereka sendiri, tetap berfokus pada penggenapan rencana Bapa di muka bumi ini! Amin! Tuhan memang ingin anak-anak-Nya diberkati. Akan tetapi, Dia tidak pernah ingin anak-anak- Nya berhenti hanya sampai pada tingkat menjadi kaya. Tuhan ingin membuat anak-anak-Nya mempunyai hati yang mau memberi seperti hati-Nya. Pengajaran yang hanya berhenti sampai menjadi kaya adalah pengajaran yang tidak lengkap. Setiap umat Tuhan seharusnya sadar bahwa tujuan utama mereka adalah menjadi sama seperti Yesus. Di dalam memberi, Yesus tidak pernah ingin menerima. Yesus memberi karena mengasihi. Yesus memberikan hidup- Nya karena mengasihi manusia, Dia ingin anak-anak-Nya juga meneladani Dia. Dia ingin hati anak-anak-Nya dipenuhi dengan kemurahan hati dan bukannya dipenuhi dengan keinginan untuk menjadi kaya.
Judul buku: Menyuap Tuhan
Pengarang: Benny Santoso
Penerbit: Penerbit Buku & Majalah Rohani (BPMR) ANDI
Halaman: 2-7