KERANJINGAN PROGRAM-PROGRAM
Thema: Penyalah-gunaan dan Pemberhalaan Program
Orang-orang di Barat memiliki kesukaan yang khusus terhadap program-program. Kami menyukainya karena mudah untuk memulainya dan mudah untuk dipahami. Program- program menawarkan kami suatu mekanisme untuk merutinisasikan yang acak, dan membuat nyata unsur-unsur yang acak dan tak terprediksi, yaitu iman kita. Yang terpenting adalah, program-program tersebut memberi kami suatu patokan untuk mengendalikan sumber daya kami, keadaan kami dan bahkan masa depan kami. Apa ada yang bisa lebih nyaman dari itu? Tentu saja ada tempat bagi program-program. Tanpa program banyak anak muda tidak pernah mengenal sukacita dalam kebaktian misionari, alkitab-alkitab Gideon tidak akan masuk ke dalam kamar-kamar hotel, para pengungsi korban perang dan kelaparan harus mengurus diri mereka sendiri. Program-program merupakan suatu bagian yang integral dari strategi Allah untuk menyampaikan anugerah-Nya kepada suatu dunia yang miskin. Namun, seperti juga hal-hal yang baik lainnya, program dapat disalah-gunakan. Bahkan program dapat menjadi berhala. Hal ini dapat terjadi apabila kita lebih berfokus kepada mekanisme suatu tindakan daripada tujuannya. Juga dapat terjadi apabila kita menggantikan apa yang berasal dari Roh Kudus dengan kepentingan-kepentingan kita sendiri. Sayangnya, kedua kecenderungan ini umumnya terjadi di Kekristenan Barat. Meskipun ada orang-orang Kristen yang menyerah kepada pemberhalaan program karena mereka tergoda oleh ambisi kedagingan, namun yang paling banyak adalah mereka jatuh dalam dosa kelancangan. Begitu melihat suatu kebutuhan atau peluang yang khusus, mereka segera dipenuhi keinginan yang kuat untuk melakukan sesuatu. Dengan keyakinan bahwa keinginan yang kuat ini sama dengan panggilan ilahi, mereka terjun tanpa berpikir panjang lagi ke dalam aktivitas yang Allah tidak perintahkan. Hal demikianlah yang rutin dilakukan oleh sejumlah gereja dan yayasan pelayanan dewasa ini: mengenali suatu kebutuhan dan melembagakan suatu program. Masalahnya, menurut periset terkenal George Barna, ialah bahwa "Beberapa gereja membodohi diri sendiri dengan asumsi bahwa karena mereka memiliki program yang cocok, berarti mereka sedang melakukan pelayanan. Apa yang sesungguhnya sedang mereka kerjakan adalah memprogram." Nama Allah tercantum di kulit luarnya padahal inti DNA-nya jelas buatan manusia. Banyak yang heran mengapa suatu proses yang awalnya begitu menjanjikan dapat berakhir dengan salah jalan. Jawabannya, kebanyakan adalah karena ketidak-sabaran. Kita terdesak oleh suatu kebutuhan atau peluang, lalu memaksa Allah untuk mewujudkannya sekarang juga. Apabila Ia tidak mau mengikuti kehendak kita, kita mulai berkeringat. Doa kita mulai menjadi seperti percakapan antara seorang pengusaha dengan bankirnya atau komandan pasukan yang terkepung memohon bantuan dari udara: Tuhan, kami sedang menghadapi saat yang kritis. Waktu yang ada tinggal beberapa hari lagi. Apakah Engkau memahaminya!? Jika Allah masih tidak menjawab, atau jika Ia tidak menjawab sesuai dengan apa yang kita harapkan, kita akhirnya seringkali menggunakan cara kita sendiri. Kita membenarkan kelancangan kita sendiri dengan menyatakan kepada setiap orang yang mau mendengar, bahwa Allah sudah menyatakan kehendak-Nya. Ia sudah menempatkan api yang tidak terpadamkan di dalam tulang-tulang kita. Seperti Yeremia, kita tidak boleh berdiam diri lebih lama lagi. Kita mungkin kurang memberikan rincian secara tepat seperti pemilihan waktu proyek, identitas mitra atau cara-cara yang Allah sediakan, namun pewahyuan selanjutnya adalah tinggal memutar sebuah kunci. Kita hanya perlu menghidupkan mesin. Untuk membujuk seseorang mengurangi kegiatan misi bisa jadi sangat sulit. Orang ini – baik pria maupun wanita – yakin sekali bahwa dunia sedang menunggunya, dan hanya memiliki sedikit kesabaran terhadap mereka yang mau menasehatinya, agar lebih mementingkan kejelasan daripada kecepatan, permenungan daripada metoda, atau ketergantungan lebih daripada otonomi. Banyak aktivis, pergi tanpa dapat dicegah, berlagak seperti mesianik; mereka didorong oleh kepercayaan yang salah bahwa pertumbuhan gereja, dan bahkan penginjilan dunia, sangat bergantung kepada keberhasilan program mereka. Dalam prosesnya, aktivitas yang serius diganti oleh perubahan yang riil. Secara keseluruhan dunia non-Barat tidak tertarik terhadap kebudayaan program. Hal ini disebabkan karena cara hidup orang-orang tersebut yang terikat pada kesukuan. Dan penduduk asli lebih menghargai kesabaran dan komunitas. Mereka hanya mempunyai sedikit perhatian terhadap rumus-rumus, hak-hak atau penetapan-penetapan yang cepat. Mereka tidak pernah menuntut ataupun mengharapkan tersedianya perubahan. Sementara cara ini dianggap asing bagi pemikiran Barat, cara ini terbukti sangat berhasil. Lebih dari 30 tahun, hampir 90% komunitas yang mengalami transformasi di dunia ini terdapat di Afrika, Asia atau Amerika Latin.
Judul buku: Trademark Tuhan Pengarang: George Otis Jr. Penerbit: Indo Gracia Halaman: 157-160
|