Ketidakseimbangan Pintu Kepada Penyesatan

» Posted on 13 May 2011 in Newest, Sharing | Comments Off

Benar! Pada kenyataannya seringkali ketidakseimbangan merupakan awal dari segala macam bentuk penyimpangan dan ketidaknormalan. Tepat di faktor kita tidak seimbang biasanya di titik itulah kita secara perlahan namun pasti sedang mengarah kepada kegagalan, kemunduran, kejatuhan hingga kehancuran.

Terlalu banyak makan dan kurang berolahraga atau terlalu banyak bekerja lupa istirahat yang cukup adalah bentuk ketidakseimbangan. Berambisi memimpin tetapi sedikit melayani dan menjadi bapa ; belajar banyak soal kasih tetapi tidak mengalami banyak soal kuasa; belajar dan membaca banyak tapi tidak menghidupi dan mengalami banyak; sarat dengan teori tetapi tidak bertumbuh dalam pengalaman dan kebijaksanaan; terlalu banyak berkotbah di mimbar tetapi tidak berbagi hidup dengan “pendengar”, membangun banyak pelayanan sosial namun kehilangan gairah dan keberanian memenangkan jiwa; sangat nge”roh” tapi sama sekali tidak memakai akal budi yang sudah diperbarui; mengumpulkan massa tapi tidak pernah menyentuh secara pribadi dan mendalam seperti Yesus; memuji Tuhan dengan nyanyian tetapi mendukakan Roh Tuhan dalam keseharian; aktif kebaktian tetapi tidak berprestasi dalam pekerjaan dan tidak membangun kesaksian di market place; melepaskan berita-berita pemulihan tetapi lupa membagikan pesan misi penjangkauan jiwa; sangat giat dalam pelayanan tetapi keluarga hancur berantakan; dan masih banyak lagi bentuk-bentuk ketidakseimbangan lainnya.

Efesus 4:15 menuliskan: “tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita BERTUMBUH di dalam SEGALA HAL ke arah Dia , Kristus yang adalah Kepala.” Bertumbuh dalam segala hal ! Itu konsep kepenuhan dan keseimbangan. Mereka yang bertumbuh tangannya tetapi tidak bertumbuh kakinya adalah abnormal dan terlihat seperti monster. Yesus sendiri menyatakan: “Karena itu haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna (Matius 5:48). Sempurna itu mungkin. Jika tidak mungkin maka Yesus tidak pernah akan mengatakannya. Kalau Dia yang menyatakannya maka Dia tahu kita berpeluang mengalaminya. Dia tahu apa yang Dia katakan. Kata “sempurna” dalam kamus bahasa Indonesia berarti: “utuh, lengkap, tidak ada kurang.” Dalam bahasa Gerika kata “sempurna” itu ditulis “teleios” yang artinya: ”lengkap”. Saat kita tidak hidup dan berpikir serta berlaku lengkap maka itu sama artinya dengan tidak seimbang; memikirkan dan mengerjakan yang satu namun tidak dengan hal yang lainnya.

Jelaslah bahwa ketidakseimbangan dan ketidaklengkapan adalah ketidaksempurnaan. Allah yang sempurna menyebut diriNya “KITA” (Kejadian 1:26) dan juga “KAMI” (Yohanes 14:23). “Kami” atau “Kita” yang dimaksudkan olehNya itu adalah Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Itulah esensi ke-Allah-an yang menyatakan diriNya sempurna. Kesempurnaan itu meliputi kompleksitas dari hubungan semua unsur-unsurnya! Bagaimana mungkin menerima sang Anak tetapi menolak pekerjaan RohNya? Bagaimana pula penjelasannya kalau kita mengakui Bapa Tuhan di sorga tetapi tidak mengakui Yesus Kristus adalah Tuhan yang diutusnya untuk menyelamatkan kita? Ketidaklengkapan dan ketidakseimbangan berarti kegagalan melihat seluruh konteksnya. Maka ketidaklengkapan dan ketidakseimbangan sama artinya dengan ketidaksempurnaan. Sempurnalah kamu seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna. Pada konteks ini akhirnya saya juga percaya bahwa kita tidak dapat sempurna tanpa yang lain. Kita tidak pernah dilahirkan untuk hidup sendirian dan bersifat soliter. Kita “mahkluk komunitas”. Kita diciptakan segambar dengan Allah. Kalau Allah yang sempurna menyatakan diriNya sebagai KITA dan KAMI maka jelaslah bahwa pada konteks itulah kita segambar dengan diriNya. Seharusnyalah kita berkomunitas seperti Dia dalam ketritunggalanNya yang sempurna. Iblis tidak mampu ada di titik ini karena dia makhluk independen. Gaya hidup “sendirian” dan  independen bukanlah gaya hidup Allah tapi menunjuk kepada sifatnya iblis. Kita sempurna karena yang lain. Kita tidak pernah bisa sempurna tanpa yang lain. Kesulitan kita untuk menyatakan “ke-kita-an” dan “ke-kami-an” adalah ketidakserupaan dengan Allah sendiri yang dalam kesempurnaanNya justru menyebut dirNya  KAMI dan KITA.. Disaat yang sama pula kita sedang menjauhi potensi-potensi untuk “sempurna seperti Bapa” dalam kekuatan dan kuasa kehidupan jika kita tidak hidup seperti Dia hidup.

Keseimbangan dan kelengkapan berarti juga meliputi semua unsur dan bidang kehidupan. Keseimbangan panggilan misalnya. Kita sebagai pribadi dan gereja dipanggil untuk memenuhi tiga panggilan utama kita: yang pertama-tama menyembah Dia dengan seluruh hidup kita, lalu juga panggilan saling mengasihi dan saling menyempurnakan sebagai gerejanya kemudian panggilan berikutnya adalah panggilan memuridkan bangsa-bangsa. Demikian pula dengan keseimbangan kehidupan pribadi. Firman Tuhan menuliskan dalam 1 Tesalonika 5:23 :”Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu SELURUHNYA dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu TERPELIHARA SEMPURNA dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” Kita dikuduskan bukan hanya sebagian tetapi SELURUHNYA. Banyak dari kita memperhatikan pertumbuhan kerohanian dan kejiwaan tetapi tidak peduli kesehatan tubuh dan kebugaran. Tidak seimbang! Padahal target Tuhan di ketiga area itu adalah sempurna dan tak bercacat cela. Apakah anda berolahraga, makan sehat dan istirahat serta tidur dengan cukup sebagai tiga pilar hidup sehat secara jasmani? Demikian juga sebaliknya, hanya pintar dan sehat tapi “kosong” dalam kerohanianpun akan seperti seonggok daging hidup tanpa kehidupan. Roda kehidupan kita harus memiliki jari-jari yang sama panjang dan seimbang karena jika tidak maka roda kehidupan tidak akan menggelinding lancar dan sempurna…tidak cepat dan akan menjadi berat berputar. Apa roda kita bulat dengan jari-jari roda yang panjangnya seimbang? Pertanyakan 6 area penting “jari-jari” dari roda kehidupan anda ini, apakah semua lengkap dan seimbang, apakah bertumbuh dan kuat:  (1) pendidikan dan pemikiran  (2) kesehatan jasmani (3) kerohanian dan etika  (4) keluarga  (5) sosial  (6) pekerjaan dan keuangan. Itulah contoh-contoh area dalam hidup yang perlu keseimbangan dan masih banyak hal lain lagi.

Paulus berkata:”Sebab aku tidak lalai memberitakan SELURUH MAKSUD Allah kepadamu.” (Kisah 20:27). Dia memahami perlunya kita menangkap lengkap dan seimbang. Sekali lagi, kesempurnaan dibangun oleh kelengkapan semua unsur-unsurnya…tidak lengkap berarti tidak sempurna….seperti Tuhan yang sempurna dan lengkap menyebut unsur-unsur diriNya dengan:  “KITA” dan “KAMI”…..Bapa dan RohNya tanpa PutraNya bukanlah Allah yang sempurna seperti yang kita pahami dan yakini. Demikian juga Allah yang berkasih karunia di saat yang sama pula Dia juga menegakkan hukum-hukumNya…..Dia penuh kuasa tetapi juga sarat dengan cinta….Dia benci dosa tetapi mengasihi dan menebus si pendosa…Itulah kesempurnaanNya!

Marilah menjadi sempurna, lengkap dan seimbang! Kita tidak perlu gagal, jatuh dan hancur karena pelanggaran prinsip keseimbangan ini. Keep winning.